1/16/17

MEWASPADAI BAHAYA WAHN (CINTA DUNIA TAKUT MATI)


Di saat orang lain sibuk menanam saham di sebuah perusahaan, tanamlah “saham” untuk bekal akhirat kita kelak dengan sedekah. Di saat orang lain sibuk memutar uangnya dalam bisnis dan perniagaan, putarkanlah uang kita dengan sedekah. Di saat orang lain sibuk mencari kebahagiaan dengan berkunjung ke berbagai tempat wisata yang menarik di dunia, sibukkanlah diri kita untuk berbagi kebahagiaan, salah satunya dengan sedekah.
Sudah saatnya kita merubah pola pikir yang cenderung mengedepankan ego dan mementingkan diri sendiri. Masih banyak saudara-saudara kita yang kekurangan dalam harta, sekalipun mereka tidak menengadahkan telapak tangan mereka. Kita hanya perlu untuk lebih peka dengan lingkungan sekitar, misalnya apakah masih ada tetangga kita yang belum sarapan nasi hari ini? Atau apakah tetangga kita sedang membutuhkan pinjaman untuk biaya sekolah anaknya?
Alasan paling masuk akal mengapa seseorang berat untuk mendermakan sebagian hartanya adalah karena kurang yakin akan janji Alloh tentang balasan sedekah yang berlipat dan terlalu sayang bila sekedar diberikan tanpa ada timbal balik yang riil kepadanya. Bila hal ini terjadi maka seseorang itu berada dalam bahaya. Dia telah terjangkit virus wahn atau cinta dunia (dan takut mati).
Padahal Rosululloh saw telah memperingatkan umatnya akan bahayanya penyakit ini. Bila penyakit ini dibiarkan berkembang di dalam jiwa manusia maka akan berdampak pada hilangnya komitmen dalam diri untuk taat pada perintah Alloh dan RosulNya, na’udzubillahi mindzalik.
You Only Life Once, dan dunia ini hanya tempat singgah sementara. Tempat tinggal kita yang sebenarnya adalah di akhirat. Mari kita perbaiki diri dengan menguatkan iman, khususnya kepada Allah dan hari akhir, memahami hakikat dunia dan fitnah-fitnahnya, melazimkan amal-amal shalih dan amal kebajikan dengan harapan akhirat, serta banyak berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari penyakit wahn. Dan sedekah adalah salah satu bentuk latihan bagi kita supaya terhindar dari penyakit wahn.
Wallohu a’lam.

KEAJAIBAN SEDEKAH DAPAT MENCEGAH BENCANA DAN MUSIBAH


Keutamaan sedekah bukan hanya terletak pada balasan pahala yang berlipat saja, namun masih banyak keutamaan lain yang lebih dasyat dari itu. Sedekah akan menolak berbagai macam musibah, bencana dan kesusahan yang mengerikan. Sedekah akan mengangkat berbagai macam bencana, marabahaya dan penyakit yang akut. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai nash, serta dibuktikan secara riil dan berdasarkan pengalaman.
Rosululloh saw bersabda  :
إنَّ الصَّدَقَتَ ... وَتَدْفَعُ مِيْتَةَ السُّوْءِ
“Sesungguhnya sedekah….. dan mampu menghindarkan dari kematian yang buruk” (HR. Tirmidzi)
الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ السُّوْءِ
“Sedekah mampu menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (HR. Thobroni)
Demikian pula, sedekah dapat menjaga kondisi badan, serta dapat mengusir berbagai bencana dan penyakit dari pelakunya. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadist :
دَاوَوا مَرْ ضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
Kebalikannya, keengganan untuk bersedekah dapat menyeret seseorang ke dalam berbagai musibah dan cobaan. Hal ini ditunjukkan dalam hadist Anas bin Malik r.a. yang diriwayatkan secara marfu’, di antaranya berbunyi, “Sesungguhnya Jibril berkata kepada Ya’qub a.s. yang ia sampaikan dari Alloh s.w.t., “Tahukah engkau, kenapa aku hilangkan penglihatanmu, aku buat punggungmu bungkuk dan saudara-saudara Yusuf melakukan apa-apa yang telah mereka lakukan kepadanya? Sebab, dulu kalian pernah menyembelih seekor kambing, lalu ada seorang miskin nan yatim yang tengah berpuasa, namun kalian tidak mau memberikan makan sedikitpun.
Demikian luar biasanya balasan sedekah bagi yang melaksanakannya. Seseorang yang bersedekah tidak akan kekurangan dari rahmat Alloh. Oleh karena itu mari kita berkomitmen untuk bersedekah, setiap hari, atau seminggu sekali. Selain akan terhindar dari berbagai macam bahaya dan musibah kita juga bisa berbagi kebahagiaan dengan orang yang kita bantu.
Wallohu a’lam.


KATA SIAPA SEDEKAH HARUS MENUNGGU KAYA ?


Sedekah selalu identik dengan kelebihan dalam harta. Sesuatu yang lebih bukan berarti berlimpah ruah hartanya. Lebih di sini bukan berarti kekayaan yang berlebihan melainkan harta yang tersisa setelah menafkahi kebutuhan keluarga. Sehingga tidak ada batasan kaya atau miskin untuk berderma.
Islam senantiasa berusaha untuk memperluas cakupan infak dan sedekah, dan tidak hanya sebatas bagi orang yang kaya saja. Hal ini sebagai bentuk pendidikan bagi umat agar senantiasa yakin akan janji-janji Alloh, berpartisipasi dalam kebaikan, bergantung kepada kehidupan akhirat, zuhud di dunia dan tidak tergiur dengan kelezatannya. Juga, sebagai sarana untuk menyebarkan kasih sayang, berbagi kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan sesama kaum muslimin .
Nabi s.a.w. selalu memotivasi orang-ornag yang kekurangan untuk bersedekah dan mengabarkan bahwasanya sedekah yang paling utama adalah yang keluar dari seorang yang memiliki sedikit harta setelah mencukupi kebutuhan anggota keluarganya. Hal itu beliau sampaikan saat Abu Huroiroh r.a. bertanya kepada beliau, “Wahai Rosululloh s.a.w. sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab :
جـُـهـْـدُ الــمُــقِــلِّ، وَابــْدَ أ بــِـمَـنْ تــَـعُــوْ لُ
“Usaha seseorang yang memiliki sedikit harta. Mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu.”310)
Hal di atas tidak bertentangan dengan sabda Nabi s.a.w. yang tertera di dalam hadist Hakim bin Hizam r.a. :
أفـْضَـلُ الـصَّـدَ قــَةِ أوْ خـَيْـرُ الـصَّـدَ قــَةِ عَـنْ ظـَهْـرِ غـِـنًى
“Sedekah yang paling utama – atau sedekah yang paling baik- adalah dalam kondisi kecukupan.”314)
Karena yang dimaksud dengan kecukupan di sini bukanlah kekayaan yang berlebihan, namun yang dimaksud adalah kelebihan dari kebutuhan seseorang setelah digunakan untuk dirinya dan anak-anaknya.
Maka, sebagai orang yang mengaku beriman, baik yang kaya maupun yang miskin –selagi masih ada sisa dari kebutuhan diri dan keluarganya- hendaklah ia bersedekah, jangan sampai ia menahan dirinya untuk mendapatkan kebaikan yang berlimpah ini, yang bakal ia butuhkan ketika menghadap Alloh kelak. Kita memohon kepada Alloh, semoga memberikan keselamatan dan keistiqomahan dalam melakukan kebaikan.


INILAH DAMPAKNYA JIKA HIDUP BERSAMA ALQURAN


“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al Israa : 9)
Hidup dalam naungan Al-Qur’an berarti selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an baik secara tilawah (membaca), tadabbur (memahami), hifzh (menghafalkan), tanfiidz (mengamalkan), ta’lim (mengajarkan),  dan tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan dan rujukan hukum). Rosululloh bersabda : sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”
Orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah orang yang masuk pada tahapan awal dari interaksi terhadap Al-Qur’an dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah orang yang sudah sampai tahapan akhir daripada interaksi terhadap Al-Qur’an. Namun secara umum orang-orang yang berjiwa robbani adalah orang yang senantiasa mengajarkan Al-Qur’an dan pada saat yang sama orang tersebut berlajar Al-Qur’an dan semuanya masuk ke dalam golongan orang yang terbaik dari umat Islam.
Orang-orang beriman menjadikan Al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya serta tidak pernah bosan dan kenyang dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin ‘Affan z: kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur’an.”
Rosululloh bersabda : “Al-Qur’an ini adalah hidangan Alloh, maka terimalah hidangan itu sekuat kemampuan kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Alloh, cahaya yang terang, obat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang maka diluruskan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah, karena Alloh akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Hakim)
Jika setiap huruf terdapat sepuluh kebaikan, maka bagaimana dengan satu halaman Al-Qur’an? MaasyaAlloh begitu besarnya karunia Alloh bagi hambaNya yang beriman. Cukuplah bagi kita untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap harinya. Karena suatu saat nanti Al-Qur’an akan menjadi syafat bagi yang membacanya. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan ahlul qur’an. Aamiin.

Wallohu a’lam.

WANITA MUSLIMAH RAIHLAH SURGAMU


Wanita Muslimah laksana mutiara yang indah dan berlian yang sangat berharga. Islam memuliakan kedudukanmu, melihara martabatmu, meninggikan derajatmu, menjaga kehormatanmu dan melindungi kesucian dirimu dari berbagai faktor yang dapat menodai dan menghinakan kehormatanmu (muru’ah). Karena wanita muslimah memiliki peranan penting dalam perjuangan Islam dengan melahirkan generasi-generasi terbaik dan sebagai motivator untuk para suami agar tetap tegar dan istiqomah dalam ketaatan.
Saudariku, raihlah surgamu! Alloh akan menganugerahimu pahala yang melimpah dan kebahagiaan hidup dunia akhirat selama dirimu beriman dan beramal sholeh. Alloh berfirman:
“…Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.”  (QS. Ghofir [40] : 40)
Tanpa iman dan amal sholeh seorang wanita menjadi hina dina, begitupula kecantikan, kekayaan dan kedudukannya hanyalah fatamorgana. Sejatinya perhiasan dunia ini adalah wanita sholehah. Rosululloh bersabda:
“Dunia adalah taman kenikmatan, dan sebaik-baiknya kenikmatan dunia adalah wanita sholehah. (HR. Muslim)
Saudariku, secara asasi syariat Islam yang telah ditetapkan bagimu, merupakan ladang pahala untuk meraih surga. Bagaimana tidak dikatakan surga ketika Alloh mewajibkanmu menutup aurat, mengenakan jilbab dan lebih dianjurkan agar menetap di rumah ketika banyaknya para wanita mempertontonkan aurat dan memamerkannya, bahkan menjual kehormatan dan kesucian diri, serta banyaknya wanita yang lebih asyik keluyuran di tempat hiburan, di mall-mall, dan wahana rekreasi daripada menghabiskan aktivitas mereka di rumah. Maka hal ini menjadi  penyebab terjadinya kriminalitas (terhadap wanita) dan kemaksiatan seperti pemerkosaan, prostitusi (pelacuran), perselingkuhan dll. Rosululloh bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan bencana yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hal ini selaras dengan perkataan Abdulloh Ibnu Mas’ud zbahwa jika perbuatan zina telah menyebar luas dalam sebuah negeri, maka Alloh pasti akan menghancurkan negeri tersebut.
Saudariku, bagaimana tidak dikatakan surga kepadamu ketika engkau mentaati Alloh dan meneladani Rosul-Nya, sementara kebanyakan wanita mempertuhankan hawa nafsu, dan menjadikan orang-orang kafir sebagai idola, dan meniru gaya hidup mereka. Tidak dapat dipungkiri lagi  realitanya sangat sedikit wanita yang mau menjalankan kewajibannya dan lebih banyak meninggalkannya, padahal Rosululloh n memberikan pengajaran dan metode bagi wanita untuk meraih surga. Rosululloh bersabda:
Jika seorang wanita mendirikan shalat lima waktu, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, taat kepada suami, pasti akan dikatakan kepadanya di akhirat nanti “silahkan masuk surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban)
Saudariku, masihkah engkau ragu dengan janji Alloh l ini? Dan apa yang mem-buatmu merasa berat menjalankan tuntunan Rosul-Nya? Dan apakah kamu rela menggadaikan surgamu dengan kesenangan dunia? Maka hendaknya engkau takut dengan adzab Alloh dan pedihnya siksa neraka. Rosululloh   bersabda:
“Aku melihat ke dalam neraka, ternyata sebagian besar penghuninya adalah para wanita.” (HR. Muslim)

Sudah menjadi kewajiban  bagi para orang tua, guru-guru, ulama dan pemerintah agar saling bersinergi untuk menjaga, memelihara dan mendidik para wanita agar berpegang teguh dalam ketaatan kepada Alloh ldan rasul-Nya. Semoga Alloh memberi bimbingan bagi para wanita muslimah untuk meraih surga-Nya. Aamiin. 

CONTOH PIDATO TENTANG LARANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN


Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah ta’ala,
Secara umum kita mengetahui jenis-jenis kemaksiatan yang berpotensi memperkeruh hati seorang mukmin dan memudarkan keimanan, baik yang dzahir maupun bathin, salah satunya adalah tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain.
Sifat ini tidak akan timbul tanpa ada pemicunya terlebih dahulu yaitu su’udzdon atau berburuk sangka terhadap seseorang. Sehingga bisa dikatakan kedua sifat ini saling berkaitan satu sama lain. Allah ta’ala melarang kedua perbuatan ini bersarang di hati hamba-Nya dalam firman-Nya surat al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain[Al-Hujurat : 12]
Mencari-cari kesalahan orang islam dan aib mereka dengan mencari tahu hal itu akan berdampak pada kerusakan yang besar. Kerusakan yang dimaksud adalah timbulnya perpecahan yang diiringi hilangnya kepercayaan dan integritas dalam tubuh kaum muslimin.
Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah ta’ala,
Abu Hatim bin Hibban al-Busti dalam kitab Raudhah al-‘Uqala bekata:
“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.
Seorang muslim harus berhati-hati terhadap sifat tercela ini, karena secara tidak langsung orang yang mencari-cari kesalahan orang lain telah menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada orang yang dicari kesalahannya, lebih suci dan bersih dari dosa, padahal Allah ta’ala melarang hamba-Nya merasa bersih dari dosa, terhindar dari maksiat, karena Allah ta’ala lebih mengetahui hamba-Nya yang bertaqwa.
فلا تزكّوا  أنفسكم هو أعلم بمن اتّقى
“Maka janganlah kalian mengatakan bahwa diri kalian suci Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqawa.” [Q.S. al-Najm : 32]
Seharusnya sebagai seorang mukmin yang memiliki ikatan persaudaraan berasaskan iman dengan mukmin lainnya, saling menjaga kehormatan saudaranya satu sama lain dengan menutup rapat-rapat aibnya, berusaha supaya tidak ada orang lain yang  mengetahuinya, dan menjadikan dirinya jaminan atas keamanan saudaranya. Beruntunglah orang-orang yang tidak tersibukan dengan aib orang lain sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب النّاس
‘Sungguh beruntung orang yang disibukkan dengan kekurangannya sendiri sehingga tidak sempat memikirkan keekurangan orang lain.”
Dan cukuplah bagi setiap mukmin termotivasi dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
من ستر مسلماً ستره الله يوم القيامة
“Barangsiapa yang menutupi aib seorang mukmin di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di dunia maupun diakhirat kelak.”
Semoga Allah melindungi kita dari sifat tajassus, menjadikan diri kita lebih bertawadlu’, bersemangat mengerjakan amal shalih dan mendapatkan ridha-Nya. Aamiin.
والله أعلم


HUKUM PEMAKAIAN SUTERA BAGI LAKI-LAKI


Siapa yang tak kenal kain sutera? Kain yang terbuat dari serat protein alami yang. Jenis sutra yang paling umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutra. Selain terbuat dari bahan alami, sutera juga bisa juga berupa serat sintetis buatan manusia.
Kain sutera sering dipakai oleh wanita dalam berbagai jenis pakaian. Mulai dari baju, kerudung sampai kelambu tidur. Selain terbuat dari bahan alami, kainnya yang lembut dan elegan membuat harga kain sutera ini di atas rata-rata. Nah bagaimana kalau kain ini dipakai oleh laki-laki, bolehkah?
Dari Umar bin Khattab ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang telah memakainya di dunia maka nanti di akhirat tidak akan memakainya lagi.” (HR. Bukhari Muslim)
Ternyata larangan memakai sutra bagi kaum laki-laki disebabkan pakaian tersebut adalah pakaian ahli dunia, sementara kelak Allah subhânahuwata’âla akan memakaikannya kepada kaum mukminin di surga-Nya. Allah subhânahuwata’âla berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al Hajj : 23)
Dalam Kitab Syarah Riyadhushalihin, Musthafa Dib al-Bugha menjelaskan: “Keharaman sutera yang dimaksud dalam nash-nash hadits adalah sutera alam yang dikenal. Sedangkan sutera buatan tidak termasuk dalam pengharaman, kecuali jika tidak bisa dibedakan dari sutera alam, dan orang-orang samar sehingga menduganya serupa dengan wanita, jika demikian maka ia termasuk ke dalam yang diharamkan. (Juz 2, hal 337)
Akan tetapi kalau hanya memegang saja hukumnya boleh, asalkan tidak memakainya, berdasarkan hadits al-Bara' bin Azib r.a, ia berkata, "Nabi saw. diberi hadiah sehelai kain sutra, lalu kami memegangnya dan merasa kagum dengan kain tersebut. Lalu Nabi saw. bersabda, 'Apakah kalian merasa kagum dengan kain ini?' Kami menjawab, 'Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda, 'Sapu tangan Said bin Mu'adz di surga lebih baik daripada kain ini'," (HR Bukhari).

Jadi, larangan memakai sutra untuk laki-laki bukan karena kain itu najis, tapi karena ada larangan dari Rosululloh  shallallôhu’alaihi wasallam untuk memakainya sehingga pakaian itu tidak layak dipakai oleh orang yang bertaqwa. Adapun kain itu sendiri suci boleh dipegang, dijual dan boleh juga dimanfaatkan hasil keuntungannya. Wallohu a’lam.