11/28/16

DALAM TIAP BULU HEWAN QURBAN TERDAPAT PAHALA

No comments :

Saudaraku perindu surga dimanapun anda berada, Berqurban adalah salah satu bentuk ketundukan seorang hamba kepada Allah l , berqurban sebagai sarana agar seorang hamba lebih dekat lagi dengan Allah l"Dari Zaid Ibnu Arqom Nabi Muhammadnbersabda :
"Berqurban adalah sunnahnya bapak kalian yaitu Ibrohim       .
Adapun keutamaan dari berqurban adalah bahwa setiap helai rambut dan bulunya bernilai satu kebaikan."(HR. Ahmad dan Ibnu Majjah.)
  Nabi Ibrohim q dan putranya Ismailq telah memberikan tauladan yang sangat berharga bagi kehidupan kita, dua sosok manusia yang sangat mulia dengan ikhlas dan sabar, siap untuk menjalankan perintah Allah   dengan diperintahkannya kepadanya yaitu Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismailq, bukan hanya harta yang ia korbankan, bahkan nyawa anaknya sekalipun siap ia korbankan ketika Allahlmemerintahkannya.
Bentuk pengorbanan telah mereka lakukan…
Rosulullahnpun sangat menekankan bagi mereka yang mempunyai kemampuan untuk berqurban dan berkorban, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya.

Saudaraku Perindu Surga…
Saat ini bukannya anak-anak kesayangan kita yang harus kita korbankan…Kita hanya diperintahkan untuk menyisihkan sebagian dari harta kita...untuk kita Berqurban dan berkorban, sebagai bentuk kepatuhan kita kepada Allah        dan Rosulnyandan juga sebagai bentuk kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan…
Mumpung ada kesempatan…!!
Mari kita keluarkan sebagian harta kita untuk berqurban, karena setiap helai rambut dan bulu dari hewan yang dikorbankan bernilai pahala satu kebaikan…

Selamat Berqurban Saudaraku…
Bukan daging atau darah yang sampai kepada Allahl, tapi keikhlasan kita dalam beramal.

Semoga Allahlmenerima amal-amal yang telah kita lakukan.

ADA NIKMAT ALLAH DALAM SETUSUK SATE

No comments :

Sate, siapa yang tak kenal makanan khas Indonesia ini. Baik tua maupun muda, bahkan anak balita pun menyukai makanan dari olahan daging ayam, kambing atau sapi yang ditusuk kemudian dibakar ini bersama rempah-rempah pilihan serta bumbu kacang atau kecap sebagai cocolannya. Dan tentu saja, spesialnya di hari Raya Idul Adha seperti yang kan kita rayakan di bulan ini, biasanya adalah sate kambing favoritnya. “Hemmmm…, nyam, nyam, nyam….” “Enaaaaaak” Celoteh sang anak di suatu siang hari Raya Idul Adha.
“Eh nak, sabar-sabar… Pelan-pelan saja makannya. Gak usah takut kehabisan. Masih banyak” Cergah sang ayah.
“Tapi yah sate nya nikmat banget sih…” Jawab sang anak singkat.
“Iya memang nikmat, tapi kan kalau makan tidak boleh tergesa-gesa…, kalau tersedak bagaimana…?” Sang ayah coba mengingatkan…
“Emmm…” Sang anak hanya bergumam dan mencoba mengikuti nasihat sang ayah. “Iya yah… pelan-pelan aja makan nya ya? Takut tersedak ya..?
“Alhamdulillah…, ya nak seperti itu seharusnya. Bukankah Rosululloh juga sudah mengingatkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa? Termasuk ketika makan, dan juga… hayo…, tangan kirinya megang apa tuh…??” Tambah sang ayah.
“Oh iya… hehe… Lupa yah, makan pakai tangan kiri… Kan dilarang Rosul ya? Astaghfirulloh” Dengan cepat sang anak melepaskan tusukan sate yang ada di tangan kirinya.
“Oh iya nak… ngomong-ngomong soal nikmat, ingat kan bahwa nikmat yang terdapat dalam tiap tusuk sate itu berasal dari Alloh ta'ala?” Tanya sang Ayah dengan mata teduh.
“Iya yah… kan semua adalah pemberian Alloh kan yah?” Jawab sang anak sambil sesekali mengunyah sate.
“Iya betul nak, pintar kamu… Tidak ada satu pun nikmat yang diperoleh melainkan berasal dari Alloh. Bahkan nikmat Alloh ini tidak pernah berhenti. Bukan hanya sate yang kamu makan. Tapi juga gigi untuk mengunyah sate. Lidah untuk merasakan sate. Hidung untuk mencium bau nikmat sate. Tangan untuk memakan sate. Dan masih banyak lainnya. Kita juga bisa menikmati sate karena kita masih sehat. Juga masih diberi udara yang sehat setiap saat untuk bernafas.” Jelas sang Ayah.
“Jadi setiap saat itu kita diberi nikmat oleh Alloh nak… Tidak pernah berhenti. Kalau dihitung pasti tidak akan sanggup kita menghitungnya. Karena itu Alloh mengingatkan kita dalam surat an-Nahl ayat ke delapan belas: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Tambah sang Ayah menjelaskan.
“Alloh baik banget ya yah…?” Tanya sang anak.
“Betul nak…, karena itu jangan lupa untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Alloh. Bahkan kalau kita bersyukur, Alloh pasti akan tambahkan nikmat tersebut seperti yang Alloh katakan dalam al-Qur'an surat Ibrahim ayat ke tujuh: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” Jawab sang ayah.
“Tetapi…” sang ayah kembali melanjutkan jawabannya “sebaliknya, jika kita tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, maka kita harus bersiap akan azab yang akan datang sebagaimana lanjutan ayat yang tadi ayah bacakan: dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
“Alhamdulillah ya Alloh…” cetus sang anak tiba-tiba.
“Kok Alhamdulillah nak?” Tanya sang ayah
“Kan adik sudah dikasih sate ini. Kan ini nikmat dari Alloh, jadi harus disyukuri, kalau tidak nanti dapat azab. Kan yah?” Sang anak menjelaskan.
“Betul sekali nak, pintar kamu. Alhamdulillah. Sejak kecil kamu harus belajar bersyukur. Tetapi kamu harus tahu nak, bahwa cara bersyukur itu bukan hanya mengucap Alhamdulillah nak.”
“Terus apa dong yah…?” Cergah sang anak
“Kamu shalat… Sedekah… Berbakti pada orangtua… Berbicara yang baik… dan berbuat perbuatan baik lainnya adalah tanda bersyukur kita pada Alloh. Jadi nikmat yang Alloh berikan ini harus kamu gunakan untuk berbuat baik.”Jawab sang ayah.
“Ooooh…” Gumam sang anak singkat sambil kembali mengunyah sate.
“Kalau tidak shalat berarti tidak bersyukur ya yah…?” Tanya sang anak kembali.
“Betul nak… Jangan lupa itu.” Jawab sang Ayah singkat.
“Ya ayah…” Jawab sang anak dengan semangat.
“Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang kita makan sate nya sama-sama…” “Loh… Mana sate nya…?? Tinggal satu? Terus, ayah gak kebagian dong…? Tanya ayah keheran.
“Hehehe… Maaf ya yah… Lupa… Masih ada satu kok, kan harus tetap bersyukur… nikmat dari Alloh…”
“Iya nak… Hiks” Dengan wajah sembab karena “bahagia”.
 

Mari hadirkan dialog iman bersamanya. Dialog di atas hanya contoh, boleh jadi apa yang kita bisa hadirkan bersama anak kita, bisa lebih menyentuh dan menghasilkan calon-calon generasi yang pandai bersyukur.

SEGALA HUKUM FIKIH TENTANG QURBAN, DALIL HADITS DAN AYAT QURAN

No comments :
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya, “Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha' dan Ikrimah (Taisirul 'Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha' tipis)

KEUTAMAAN QURBAN

        Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda 'Aisyah radhiyallahu'anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)
Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi'ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi' 7/521).

HUKUM QURBAN

pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi'i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas'ud Al Anshari radhiyallahu 'anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul Ahkaam, IV/454)
        Sebagian ulama memberikan jalan keluar dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a'lam.” (Tafsir Adwa'ul Bayan, 1120)

HEWAN YANG BOLEH DIGUNAKAN UNTUK QURBAN

        Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An'aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma' (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406) Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an'aam).” (QS. Al Hajj: 34) Syaikh Ibnu 'Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti', III/409)

SEEKOR KAMBING UNTUK SATU KELUARGA

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub u orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dst. radhiyallahu'anhu yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).
        Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B, karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.
        Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satsatu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dst.

KETENTUAN UNTUK SAPI DAN ONTA

        Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).
        Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

ARISAN QURBAN KAMBING ?

        Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36).” (lih. Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36).
Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu' Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).
Pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau kasus hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban dipahami untuk kasus orang yang kesulitan melunasi hutang atau hutang yang menuntut segera dilunasi. Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a'lam.

HEWAN YANG DISUKAI DAN LEBIH UTAMA UNTUK DIQURBANKAN

Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala yang artinya, “…barangsiapa yang mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32). Berdasarkan ayat ini Imam Syafi'i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari) 
Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiallahu 'anhu tentang budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya” (HR. Bukhari dan Muslim).

LARANGAN BAGI YANG HENDAK BERQURBAN

Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya (yaitu orang yang hendak qurban bukan hewan qurbannya). Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim). Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/376).
Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk anggota keluarga shohibul qurban?
Jawab: Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:
lahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau berqurban.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti' 7/529)
Nah,,, Itulah sahabat YHC, penjelasan tentang “Seputar Fiqh Qurban”. Semoga bisa memotivasi diri kita untuk bisa mengamalkan amalan yang paling dicintai oleh Alloh swt. Serta bisa mengetahui apa dan bagaimana untuk berQurban yang baik dan hukum-hukum didalmnya. Allohu a'lam.

UJIAN BERAT SANG AYAH

No comments :

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ 
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
Tiga  cinta yang tak perlu kita ragukan kesetiaannya, cinta Alloh kepada hambanya, cinta Rosul n kepada umatnya dan cinta orang tua kepada anaknya. Saudaraku dimana ada cinta disana pasti akan ada pengorbanan, begitupun cinta orang tua kepada kita yang akan menjadi dasar pengorbanan yang tak ada ujungnya.
Berletih, melupakan cita, meniggalkan mimpi demi mencari secercah bahagia untuk anaknya. Karena bagi mereka bahagia adalah mendengar tawa dari anaknya tercinta. Ibu yang mengorbankan hidup untuk melahirkan ankanya kedunia, begitupun ayah yang mengabdikan diri untuk membesarkan anaknya.
Lantas bagaimana jika seorang anak yang senantiasa mereka cintai, yang senantiasa mereka rindukan kehadiranya tak kunjung hadir ke dunia, atau bahkan setelah hadir direnggut begitu saja?
Saudaraku begitulah kisah Ibrahim q sosok pria yang gagah berani yang memecah gerbang kekufuran di masanya, yang berani menantang api untuk membela imannya, yang kuat jiwa raganya. Lantas tidak adakah kegalauan yang menghinggapinya?. Tentulah ada saudaraku dan kegalauan yang beliau rasakan adalah tak kunjung datangnya seorang anak yang senantiasa Ia damba-dambakan.
Dalam satu riwayat di kisahkan bahwa nabi Ibrahim tidak diberikan keturunan hingga beliau berumur 99 tahun, istri beliau Sarah tak mampu memberikan keturunan, sungguh ini bukanlah cobaan yang sederhana, tak ada yang satu keluarga damba-dambakan selain keturunan yang akan menjadi qurrotul 'ayun bagi mereka, penenang hati yang akan menggandeng mereka kala renta menuju syurga. Hingga akhirya Sarah seorang istri yang salehah meminta agar Ibrahimquntuk menikahi hajar,dan dengan ikhtiar tersebut maka Alloh pun memberikan kebahagiaan dengan terlahirnya seorang anak yang soleh yakni Nabi Ismail    lantas apakah cobaan keluarga bahagia ini berlalu begitu saja? Tentu saja tidak, karena dalam setiap cobaan ada kemuliaan, maka dari itu cobaan demi cobaan menerpa mereka.
Setelah nabi Ismailqlahir tentulah Ibrahimqsangat gembira dan senantiasa dekat dengan hajar ibundanya, sehingga sifat yang manusiawi bahwa sarah istri pertama merasa cemburu, dan tidak ada jalan lain selain kedua istri tersebut dijauhkan, berangkatlah nabi Ibrahim dan Hajar serta Ismail      mengitari pasir tanpa arah, menjajakan kaki tanpa tujuan demi mencari tempat yang layak untuk kehidupan anak dan istrinya.
Ismail telah tumbuh menjadi anak yang soleh, seorang anak yang senantiasa patuh kepada orang tuanya, yang senantiasa taat kepada perintah Tuhan-Nya. Hari kian berganti jarak kian memakan waktu, kerinduan kepada anak dan istri tercinta tak bisa lagi ditahan sang ayahanda. Akhirnya Ibrahim    berangkat, berazam melepas peliknya kerinduan, bersama terik mentari yang menyengat, ditemani panasnya gurun pasir yang menghangat, di itari langit yang kian kelam lekat.
Beratnya perjalanan tak menjadi halangan, halangan dan rintangan tak terasa lagi karena hati dililit kerinduan. Ibrahimqtak pernah menyangka pertemuan yang didamba-dambakan akan menjadi cobaan terberat yang pernah dirasakan.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. As-Shafat : 102). 
Kejadian Pilu yang menggemparkan, perintah yang tak masuk akal, seandainya tidak ada iman, maka tak mungkin perintah kenabian ini dilaksanakan. Anak yang soleh, yang telah mulai bisa di ajak diskusi yang bertahun-tahun di dambakan kelahirannya, harus di korbankan atas perintah Tuhan.
“Ayahanda, laksankanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dengan izin Alloh kau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” Masyaalloh, orang tua mana yang tak menangis mendengar anaknya berkata demikian?. Demi Iman, kerinduan yang telah lama tak terlampiaskan harus segera di korbankan, cinta yang begitu meruah harus ditenggelamkan.
Saudaraku.. tak ada pengorbanan cinta yang lebih besar dari pengorbanan cintanya Ibrhim qdemi perintah Tuhannya. 
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah.155) 
Tak ada jaminan bagi Nabi Ibrahim anaknya akan selamat dari kematian, hanya saja iman beliau telah melampaui setiap batasan. Beliau percaya Alloh       tak akan mendzolimi hambanya, beliau percaya hanya dengan keta'atan dan kesabaran maka kebahagiaan akan di berikan. ||  Wira al-Ghoruty.

Merayakan Kemerdekaan Dengan Istighfar

No comments :

Tak terasa sekarang kita sudah mulai menapaki kembali bulan yang selalu di tunggu oleh masyarakat indonesia, bulan agustus bulan bersejarah karena terjadinya peristiwa terpenting indonesia, yaitu peristiwa proklamasi kemerdekaan.
Acara Agustusan yang kita kenal di Indonesia ternyata di Arab Saudi disebut yaum wathoni atau hari nasional. Berikut ada paparan dari ssalah seorang syekh mari kita simak penjelasan Syaikh Dr Khalid Mushlih, murid dekat dan menantu Ibnu Utsaimin tentang yaum wathoni [agustusan ala Saudi].
“Hukum asal perayaan atau menentukan hari tertentu dalam satu tahun untuk mengenang terjadinya penyatuan beberapa wilayah dalam satu kekuasaan atau mengenang kemerdekaan negara tersebut ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Ada yang berpendapat bahwa hal ini adalah kegiatan non ritual ibadah yang pada dasarnya diperbolehkan.
Menimbang bahwa hal ini tradisi dan budaya masyarakat yang tidak ada di dalamnya melainkan sekedar ekspresi gembira dan menyebut-nyebut nikmat Allah dengan adanya peristiwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya kegiatan di hari tersebut. Mereka berargumen dengan hukum asal segala sesuatu adalah halal dan mubah.
Pendapat yang kedua melarang dengan alasan bahwa ini adalah ied sedangkan hukum asal ied adalah haram. Hal itu karena saat Nabi tiba di kota Madinah penduduknya baik Aus ataupun Khajraj merayakan dua hari. Saat ditanyakan kepada mereka mengenai dua hari tersebut. Mereka mengatakan bahwa dua hari tersebut adalah dua hari yang mereka isi dengan ‘main-main’ semenjak masa jahiliah. Nabi lantas bersabda bahwa Allah telah ganti dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik yaitu Iedul Adha dan Iedul Fitri.
Dari hadits ini sejumlah ulama membuat kesimpulan bahwa tidak boleh menentukan hari tertentu dalam satu tahun untuk diisi dengan acara senang-senang dan main-main karena hari semacam itu telah diganti dengan dua hari yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Iedul Fitri.
Sesuatu yang telah diganti itu semestinya ditinggalkan dan tidak boleh diambil. Ini dua pendapat ulama dalam masalah ini. Masing masing pendapat ini memiliki ulama ulama yang membela dan mendukungnya.
Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan (salah seorang ulama di Kerajaan Saudi Arabia) berkata,
Di antara permasalahan kontemporer yang perlu ditelaah dengan pemahaman yang cermat adalah permasalahan yang muncul di zaman ini terkait dengan penghormatan terhadap negara dan sistemnya serta penghormatan terhadap simbol negara. Itulah permasalahan hormat bendera.
Yang dimaksud dengan hormat bendera di sini adalah berdiri untuk menghormati bendera. Sebagian orang telah berbicara mengenai hukum permasalahan ini tanpa menilainya dengan melihat akar permasalahannya dan analisis fikih yang tepat. Akibatnya mereka mengeluarkan hukum yang tidak sesuai dengan realita di lapangan dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera.
Jika kita melihat, bendera itu pada asalnya adalah benda yang dikerubungi oleh pasukan perang dan peperangan dilakukan di bawah kibarannya. Jadi bendera perang adalah simbol tegaknya kepemimpian seorang panglima perang sehingga jatuhnya bendera perang bermakna kalah perang. Di zaman ini bendera itu menjadi simbol negara yang dikibarkan di berbagai momentum. Dengan menghormati bendera berarti menghormati kepemimpinan pemimpin negara.
Demikian pula, kita perlu menimbang kondisi orang yang memberikan penghormatan kepada bendera. Realitanya mereka tidaklah menghormati jenis kain yang menjadi bahan pembuatan bendera namun mereka menghormati negara yang bendera merupakan simbolnya.
Ulama yang berpendapat bahwa hormat bendera itu bid’ah bermakna bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera beribadah kepada Allah dengan cara ini yaitu hormat bendera. Inilah makna bid’ah dalam hukum syariat. Namun tidak kami jumpai seorang pun yang bermaksud demikian ketika memberikan penghormatan terhadap bendera.
Andai ada orang yang mengatakan bahwa dalam penghormatan terhadap bendera terdapat pengagungan terhadap bendera itu sendiri sebagaimana pengagungan terhadap sesuatu yang disembah. Tidaklah diragukan bahwa hal tersebut adalah kemusyrikan kepada Allah namun kami tidak mengetahui seorang pun yang melakukannya.
Dengan mengkaji ‘illah atau sebab hukum yang bisa dijadikan sebagai landasan penilaian dalam masalah ini sangatlah jelas bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera tidaklah bermaksud dengan dengan maksud-maksud di atas. Namun maksud penghormatan bendera adalah penghormatan terhadap negara dan simbol negara.
Terkait dengan bendera Kerajaan Saudi Arabia, bendera tersebut memuat kalimat tauhid (laa ilaha illallah) yang wajib dihormati oleh setiap muslim.
Suatu hal yang sudah kita ketahui bersama, dalam hukum syariat penghormatan terhadap makhluk itu jika tidak semisal dengan penghormatan terhadap Allah hukumnya boleh. Dalilnya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkirim surat kepada Heraklius dalam suratnya Nabi mengatakan, “Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraklius seorang yang dihormati oleh bangsa Romawi”. Ketika Saad bin Muadz datang untuk menjatuhkan hukuman kepada Yahudi Bani Quraizhah Nabi bersabda, “Berdirilah kalian-wahai para anshar-untuk pemimpin kalian”.
Berdiri untuk menghormati orang yang datang adalah penghormatan biasa, bukan penghormatan dengan level penghambaan. Sehingga berdiri tersebut tidaklah sampai level pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah. Penghormatan semisal ini hukumnya boleh diberikan kepada makhluk sebagaimana dalil-dalil di atas”.
Nah.. dari penjelasan diatas tersebut, bisa kita simpulkan bahwa merayakan hari kemerdekaan merupakan termasuk dalam kategori Id, yang di dalam agama tidak ada ajaran sama sekali. Sebagai seorang muslim kita patut untuk selalu bersyukur dan memohon ampun kepada Alloh SWT dan memanfaatkan/mengubah waktu yang tadinya digunakan dalam hal perayaan menjadi hal” yang lebih berguna. yang perayaan tersebut tidak ada perintahnya bahkan perayaan tersebut merupakan sebuah kebiasaan orang yahudi kita rubah menjadi suatu ibadah seperti memperbanyak dzikir kepada Alloh swt, yang didalamnya banyak sekali keutamaan-keutamaan.

Dosa ibarat debu. Jika menempel dan tidak segera dibersihkan, akan berkarat dan kotorannya melekat kuat di hati. Sedangkan, usaha untuk membersihkannya tidak lain adalah dengan bertobat dan membaca istighfar. Dalam menyongsong hari kemerdekaan ini seharusnya sebagai kaum muslimin sudah sepatutnya kita memanfaatkan waktu ini untuk selalu bertaubat kepada alloh swt atas segala dosa yang telah dilakukannya.
Sebagai hamba Allah SWT yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, sepantasnya kita memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah SWT. "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari." (HR Bukhari). Dalam riwayat lain sampai 100 kali dalam sehari(HRMuslim).
        Hadis di atas memberikan gambaran tobat dan istighfarnya Nabi Muhammad SAW. Meski telah mendapat jaminan ampunan dan surga dari Allah SWT, beliau tetap bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan bertobat kepada-Nya. Paling tidak terdapat empat keutamaan amaliah istighfar didalamnya.  Pertama, istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa (QS Ali Imran : 135). Kedua, istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum Nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan mereka
(QS Hud: 52).
 
     Bahkan, Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan di antaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar. Karenanya, bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar kepada Allah SWT.
        Ketiga, istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT. Ketika menafsirkan surah al-Anfal: 33, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun."

        Ibnu Katsir menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelamat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar." Bahkan, Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya. Keempat, istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rezeki, dan memelihara seseorang. Ibnu Katsir menafsirkan surah Hud: 52 menukil hadis Rasulullah SAW yang bersabda, "Barang siapa yang mampu mulazamah atau kontinu dalam beristighfar, maka Allah akan menganu gerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberi rezeki dengan cara tidak disangka." (Ibnu Majah).
Sahabat,,, waktu kita di dunia ini tidaklah panjang. Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh alloh swt. Sudahkah kita memperbanyak istighfar untuk senantiasa meminta ampun kepada alloh swt atas dosa-dosa yang telah kita perbuat, ataukah sebaliknya kita menyia-nyiakan waktu kita untuk hal-hal yang tidak berguna seperti merayakan hari-hari besar yang bahkan hari tersebut tidak ada perintah untuk merayakannya sehingga menghabiskan waktu yang seharusnya untuk beribadah kepadanya malah diisi dengan bermaksiat, naudzubillah!
Mari manfaatkan waktu untuk ibadah…

Mari manfaatkan kemerdekaan dengan BERISTIGHFAR… 

PARENTING - PUPUK ANAK-ANAK DENGAN KASIH SAYANG

No comments :
Setelah Menikah mungkin semua berharap dapatnya keturunan, akan tetapi sudah siapkah kita untuk merawatnya? menjadi orangtua yang baik bisa jadi sangat sulit. Padahal tugas orangtua yang terpenting adalah bagaimana mendidik anak menjadi manusia yang berkarakter baik, bertauhid dan berakhlaq mulia.
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar. (QS. Al-Aanfal, 8 : 28)
Kita akan mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan kini di hari akhir kelak, termasuk bagaimana kita merawat dan membesarkan anak-anak kita. Oleh karena itu, memiliki anak dan mengasuhnya  merupakan tiket ke surga atau bahkan sebaliknya.
Sebagai orang tua, tentunya kita memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan anak, tidak ada alasan apapun untuk melalaikan tanggungjawab tersebut. Pilihan kita akan mempengaruhi kehidupan anak seumur hidupnya. Jadi hal ini merupakan amanah dari Allah, kita harus menyediakan lingkungan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan utama anak-anak yakni tumbuh kembang keimanan, tumbuh dalam kerangka pendidikan Islam hingga anak mencapai aqil baligh. Kita harus terlibat aktif untuk melahirkan generasi mu’min-muslim yang kuat. Untuk itu kita perlu berdoa, berikhtiar dan bertawakal agar dapat mencetak generasi penerus Islam dan penyebar Islam di seluruh penjuru dunia.
Orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan moral seorang anak. Fase awal kehidupan merupakan periode yang krusial untuk merawat mereka dengan mengenalkan eksistensi Allah SWT yang Esa, kebesaran-Nya, ciptaan-ciptaan-Nya, peraturan-peraturan-Nya, dan menanamkan rasa cinta pada Allah SWT. (Lihat QS. Luqman: 12-19)
Mengajarkan anak dengan mencontohkan perilaku orang tua sejak usia dini sangat penting agar mereka mengerti tujuan hidup, karena teladan inilah mereka akan merasa takut kepada Allah sehingga meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Contoh sederhana, jika anak-anak akan atau telah melakukan sesuatu yang salah, ingatkan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui. Hal ini dapat diterapkan sejak dini untuk menanamkan keyakinan bahwa Allah SWT selalu ada dan melihat.
Jika kita menyadari betapa pentingnya hal ini untuk membimbing anak kita, maka kita harus mengetahui elemen penting kasih dan sayang dalam tumbuh kembang seorang anak.
Prof. Kevin Ryan, sebagai Professsor of Education juga turut mengungkap mengenai bagaimana cara orang tua dalam menumbuhkembangkan karakter yang baik bagi anak, di antaranya :
  • Menyadari bahwa tugas dan kewajiban sebagai orang tua adalah nomor satu. Orang tua yang baik akan secara sadar merencanakan dan memberikan waktu yang cukup untuk tugas keayah-bundaan (parenting)nya. Orang tua meletakkan agenda pendidikan karakter anak pada prioritas tertinggi.
  • Mengalokasikan waktu bersama anak-anak. Rencanakan bagaimana anda dapat mengikut-sertakan mereka dalam kehidupan sosial anda, dan leburkan diri anda kedalam kehidupan mereka.
  • Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Manusia belajar melalui contoh yang ada di sekitar mereka. Menjadi contoh yang baik adalah pekerjaan terpenting yang harus anda lakukan. Anda adalah tokoh model yang sedang ditiru oleh anak-anak anda, entah itu perilaku baik ataupun buruk. Orang tua harus membantu anak untuk menumbuhkan perilaku moral yang baik melalui disiplin diri, kebiasaan baik, hormat dan santun, serta membantu orang lain. Pondasi dari pengembangan karakter adalah perilaku, yakni bagaimana mendorong mereka untuk berperilaku baik. Jangan mendidik karakter hanya dengan kata-kata saja.
  • Turut menjadi mata dan telinga mereka. Awasilah semua ide atau pesan-pesan yang sedang mempengaruhi anak-anak. Mereka ibarat spon kering yang cepat menyerap air. Kebanyakan yang mereka ambil adalah berkaitan dengan nilai-nilai moral dan karakter, mungkin dari buku-buku, lagu-lagu, televisi, dan film-film yang secara terus-menerus memberikan pesan (entah itu yang bermoral ataupun tidak) kepada anak-anak kita.
  • Mengunakan bahasa karakter. Anak-anak sulit mengembangkan pedoman moral kecuali orang tua menggunakan bahasa yang jelas dan lugas mengenai tingkah laku ‘mana yang baik’ dan ‘mana yang buruk’. Selalu jelaskan kepada mereka ‘mana yang boleh’ dan ‘mana yang tidak boleh’.
  • Memberikan hukuman dengan kasih sayang. Sekarang kata ‘hukuman’ mempunyai reputasi buruk, sehingga banyak orang tua yang memanjakan anak dengan cara yang salah dan mempunyai anak yang sulit diatur. Anak-anak memerlukan batas atau rambu-rambu. Kadang-kadang mereka melanggar batas. Hukuman yang mendidik adalah salah satu cara manusia untuk belajar. Anak-anak harus mengerti fungsi hukuman yang diterapkan berangkat dari cinta kasih orang tua. Namun hukuman tidak boleh diberikan secara berlebihan.
  • Belajar untuk sabar mendengarkan anak anda. Sangat penting bagi orang tua menjadi pendengar yang baik. Sesibuk apapun anda, sempatkanlah untuk mendengar dan menjawab pertanyaan anak-anak anda. Berbicara dengan mereka secara serius, bahwa apa yang dikatakannya penting dan menarik bagi anda. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai, dan memberi pesan bahwa mereka itu adalah ‘hal yang penting’. Itu adalah cara yang ampuh untuk mengekspresikan rasa cinta anda.
  • Terlibat dengan kehidupan sekolah dan lingkungan mereka. Sekolah sebagai bagian kehidupan juga menentukan bagi anak-anak. Memilih lingkungan yang baik penting untuk mengisi pengalaman mereka mengenai masalah-masalah kesenangan, kesedihan, kemenangan, dan kekecewaan. Kemapuan mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut, akan berpengaruh besar terhadap bagaimana mereka mampu menjalankan hidupnya kelak. Membantu mereka untuk menjadi murid yang baik adalah juga membantu mereka menumbuhkan karakter yang kokoh.
Mengajarkan, membimbing dan mengenalkan Dien/Agama pada anak-anak dengan lemah lembut, cinta dan kasih sayang, akan menjamin kelengkapan lingkungan islami dalam tumbuh kembang anak kita. Tujuan kita membesarkan anak adalah agar mereka mengerti dan menyadari bahwa tujuan hidup ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT, sehingga dapat menghasilkan individu mu’min-muslim sejati.
Sangat penting kiranya bagi kita sebagai orang tua untuk selalu berdoa, memohon pertolongan Allah demi terjaganya keimanan dan ketakwaan diri kita serta anak-anak kita, hingga puncak kesuksesan akan tercapai di dunia dan di akhirat, orang tua dan anak-anak dapat meraih surga bersama. Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita, aamiin.
*** (Inspirator: Sabah Chaudry)


Merdekakan Jiwa Dari Belenggu Syirik Dan Kebakhilan

No comments :
Saudaraku perindu syurga yang dirahmatai Alloh subahaahu wata’ala, sungguh besar kasih sayang Alloh swt kepada hambanya, sampai mahluk melatapun Allah jaminkan akan kehidupan dan rizkinya.
Alloh swt perintahkan kepada mahluk cipataannya untuk taat dan patuh kepada perintah-Nya, dengan hati yang lapang maupun terpaksa. Karena dengan begitulah dengan iman dan sebenar-benarnya tawakal kepada Alloh kita aka merasakan kemerdekaan, kebahagiaan yang sesungguhnya.
Seiring berjalannya waktu ternyata kebanyakan manusia masih tergiring oleh nafsunya, terkukung, takut fakir di dunia, hingga akhirnya tak mengindahkan kepentingan akhirat untuk mendaatkan dunia yang hanya semata.
Pada saat ini kita bisa melihat secara lagsung berbagai macam kemaksiatan ada di depan mata kita, perdukunan dengan berbagai macam bentuknya hadir di tengah – tengah kita, yang tentunya hal ini mereka lakukan tidak lain semata-mata hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia yang semu.
Riba merajalela, anak durhaka kepada orang tua, perzinahaan dimana-mana aborsi jadi biasa, korupsi, manipulasi dan masih banyak lagi pembangkangan-pembangkangan yang dilakukan oleh anak manusia. Seperti inikah kemerdekaan yang kita harapkan?
Saudaraku perindu syurga,..
Berapa tahunkah kita ada dalam kemerdekaan semu ini? Bahagia dengan ke fakiran saudara kita, bahagia dengan kesyirikan yang meraja, merata di setiap sudut indonesia.  
Sadarilah akan tugas dan tnggung jawab kita, bahwa hadirnya kita dalam hidup ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala.
Kita harus sadar dan jangan pernah merasa aman sepanjang jalan kehidupan ini, karena kita punya musuh abadi yang disetiap tempat dan kesempatan terus berusaha degan berbagai macam cara untuk menjerumuskan manusia ke dalam jahanam, yaitu iblis dan bala tentaranya.
Iblis selalu berusaha agar manusia terbiasa melakukan kemaksiatan sampai pada tingkatan meyekutan Alloh.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS. An-Nisa : 48)
Padahal dosa inilah satu-satunya dosa yang tidak akan Alloh ampuni, sampai ia bertaubat di dunia sebelu kematia menjemput. Alloh pun kembali menegaskan dalam surat lainnnya tentang dsa syirik ini.

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS. Luqman : 13)
Saudaraku mari kita merdekakan jiwa dari bahaya syirik dan kebakhilan dan berbagai macam kemaksiatan, dengan tetap istiqomah berjalan diatas fitroh, berjalan di atas jalan islam yang lurus yang dicontohkan oleh nabi Muhammad.
Mari kita peduli kepada saudara kita yang membutuhkan, mari merdekakan diri kita dari segala jenis kebakhilan. Bukankah Rosul telah mengingatkan.
“tidak beriman seseorang mu’min sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mecintai dirinya sendiri”.
Saudaraku, kebakhilan adalah ciri bahwa diri kita belum merdeka dari kukungan hawa nafsu dunia, dan dengan itu kita tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Saudaraku mari kita jadikan akhirat sebagai tujuan, perbanyak do’a dan istighfar, zikrul maut, tilawah al-Qur’an berkawan dengan orang-orang yang soleh, infak dan sedekah serta amal-amal utama yang diperintahkan Alloh ta’ala.

Semoga Alloh memberikan kekuatan dan rahmat untuk kita menggapai kemerdekaan yang sesungguhnya, semoga Alloh senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam menginfakan harta kita dijalan-Nya, dan semoga kita senantiasa dilindungi dari dosa syirik yang membinasakan. Aamiin.