6/30/14

Creatif Photoshop Editing


Amazing Levitasi #beekhair


Creative Photo levitasi


6/19/14

EVALUASI DALAM PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits serta dalam pemikiran para ulama dan dalam praktik sejarah umat Islam.
Dalam prosesnya, pendidikan Islam menjadikan tujuan sebagai sasaran ideal yang hendak dicapai dalam program dan diproses dalam produk kependidikan Islam atau output kependidikan Islam. Adagium ushuliyah menyatakan bahwa : “al-umûr bi maqâshidika”, bahwa setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan.
Untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan kegiatan yaitu evaluasi. Dengan evaluasi, maka suatu kegiatan dapat diketahui atau ditentukan tarap kemajuannya. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi terhadap output yang dihasilkannya.
Abdul Mujib dkk mengungkapkan, bahwa untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan oleh peserta didik diperoleh melalui evaluasi. Dengan kata lain penilaian atau evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai atau tidak. Atau untuk melihat sejauh mana hasil belajar siswa sudah mencapai tujuannya.
Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan Islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan Islam dan proses pembelajaran. Dalam makalah ini akan penulis sajikan hal-hal yang menyangkut evaluasi pendidikan Islam, dari mulai pengertian, tujuan, prinsip, fungsi dan perannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan?
2. Apa tujuan evaluasi pendidikan?
3. Jelaskan Prinsip, Sistem, dan Jenis-jenis Evaluasi!











BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam
Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation, yang berarti penilaian dan penaksiran. Dalam bahasa Arab, dijumpai pula istilah imtihân, yang berarti ujian, dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dari proses kegiatan.
Sedangkan secara istilah, ada beberapa pendapat, namun pada dasarnya sama, hanya berbeda dalam redaksinya saja. Misalnya kita ambil pendapat Abudin Nata. Beliau menyatakan bahwa evaluasi adalah proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu dalam rangka mendapatkan informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka membuat keputusan.[1] Selanjutnya pendapat Oemar Hamalik, evaluasi sebagai suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan peserta didik untuk tujuan pendidikan
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi merupakan suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insedental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu yang terencana, sistematik dan berdasarkan tujuan yang jelas. Jadi dengan evaluasi diperoleh informasi dan kesimpulan tentang keberhasilan suatu kegiatan, dan kemudian kita dapat menentukan alternatif dan keputusan untuk tindakan berikutnya.
Selanjutnya, Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau tehnik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.
Evaluasi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu aktivitas di dalam pendidikan Islam. Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan, baik berkaitan dengan materi, metode, fasilitas dan sebagainya.
Oleh karena itu, yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauhmana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.
Jadi evaluasi pendidikan Islam yaitu kegiatan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan pelaksanaan evaluasi ini bukan hanya pendidik juga keseluruhan aspek/unsur pendidikan Islam
B.  Tujuan Evaluasi
Menurut Abdul Mujib dkk, tujuan evaluasi adalah:
1. Mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian, dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya.
2. Mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar ia dapat mengejar kekurangannya.
3. Mengumpulkan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pengecekan yang sistematis terhadap hasil pendidikan yang telah dicapai untuk kemudian dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.[2]
Abudin Nata menambahkan, bahwa evaluasi bertujuan mengevaluasi pendidik, materi pendidikan, dan proses peyampaian materi pelajaran.
Pendapat senada mengungkapkan bahwa tujuan evaluasi yaitu untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam kompitensi/subkompitensi tertentu setelah mengikuti proses pembelajaran, untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test) dan untuk memberikan arah dan lingkup pengembangan eavaluasi selanjutnya.
Ada tiga tujuan pedagogis dari sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia, yaitu:
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialaminya.
2. Untuk mengetahui sejauhmana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkan Rasulullah SAW. terhadap umatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia di sisi Allah SWT yaitu paling bertaqwa kepada-Nya, manusia yang sedang dalam iman atau ketaqwaannya, manusia yang ingkar kepada ajaran Islam.
C. Prinsip, Sistem, dan Jenis Evaluasi Pendidikan Islam
a. Prinsip Evaluasi Pendidikan Islam
Pelaksanaan evaluasi agar akurat dan bermanfaat baik bagi peserta didik, pendidik ataupun pihak yang berkepentingan, maka harus memperhatikan prinsip-prisip sebagai berikut :
1.      Dalam miliu syar’i
Prinsip utamanya adalah berjalan diatas epistemologi syar’i, tidak melewati batasan-batasannya, dan tetap pada substansinya.

2.      Valid
Evaluasi mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis tes yang terpercaya dan shahih. Artinya ada kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
3.      Berorientasi kepada kompetensi
Dengan berpijak pada kompetensi, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
4.      Berkelanjutan/Berkesinambungan (kontinuitas)
Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dari waktu ke waktu untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta didik dapat dipantau melalui penilaian. Dalam ajaran Islam sangatlah diperhatikan kontinuitas, karena dengan berpegang prinsip ini, keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil serta menghasilkan suatu tindakan yang menguntungkan.
5.       Menyeluruh (Komprehensif)
Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, meliputi kepribadian, ketajaman hafalan, pemahaman, ketulusan, kerajinan, sikap kerja sama, tanggung jawab, dan sebagainya, atau dalam taksonomi Benjamin S. Bloom lebih dikenal dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kemudian Anderson dan Cratwall mengembangkannya menjadi 6 aspek yaitu mengingat, mengetahui, aplikasi, analisis, kreasi dan evaluasi.
6.       Bermakna
Evaluasi diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu evaluasi hendaknya mudah difahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
7.      Adil dan objektif
Evaluasi harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi peserta didik dan objektif berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional dan irasional. Jangan karena kebencian menjadikan ketidakobjektifan evaluasi.
8.       Terbuka
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
9.       Ikhlas
Evaluasi dilakukan dengan niat dan yang bersih, dalam rangka efisiensi tercapainya tujuan pendidikan dan bai kepentingan peserta didik.

10.   Praktis
Evaluasi dilakukan dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan dengan beberapa indikator, yaitu: a) hemat waktu, biaya dan tenaga; b) mudah diadministrasikan; c) mudah menskor dan mengolahnya; dan d) mudah ditafsirkan
11.   Dicatat dan akurat
Hasil dari setiap evaluasi prestasi peserta didik harus secara sistematis dan komprehensif dicatat dan disimpan, sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan.
12.   Akuntabel
Evaluasi dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.[3]
b.       Sistem Evaluasi Pendidikan Islam
Sistem evaluasi yang dikembangkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berimplikasikan paedagogis sebagai berikut:
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi. Seperti tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 155
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
2. Untuk mengetahui sejauhmana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rasulullah SAW kepada umatnya. Ini seperti pengevaluasian Nabi Sulaiman terhadap burung hud-hud, seperti tercantum dalam QS. Al-Naml: 27
“Berkata Sulaiman: “Akan Kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu Termasuk orang-orang yang berdusta.”
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah Azza wa Jalla terhadap Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang menyembelih Ismail putera yang dicintainya. Seperti tercantum dalam QS. As-Shaffat: 103-107
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
4. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan pdnya, seperti pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan Allah Swt kepadanya di hadapan para malaikat, seperti tercantum dalam QS. Al-Baqarah : 31
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
5. Memberikan semacam tabsyîr (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk, seperti tercantum dalam QS. Al-Zalzalah: 7-8
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”[4]
c.        Jenis-jenis Evaluasi Pendidikan Islam
Jenis-jenis evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam antara lain sebagai berikut:
1. Evaluasi Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan satuan program pembelajaran (kompetensi dasar) pada mata pelajaran tertentu. Jenis ini diterapkan berdasarkan asumsi bahwa manusia memiliki banyak kelemahan seperti tercantum dalam QS. An-Nisa: 28
 “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.
Dan pada mulanya tidak mengetahui apa-apa, tercantum dalam QS. An-Nahl: 78, sehingga pengetahuan, ketrampilan, dan sikap itu tidak dibiasakan.
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
Untuk itu Allah Swt menganjurkan agar manusia berkonsentrasi pada suatu informasi yang didalami sampai tuntas, mulai proses pencarian, (belajar mengajar) sampai pada tahap pengevaluasian. Setelah informasi itu dikuasai dengan sempurna, ia dapat beralih pada informasi yang lain, tercantum dalam QS. Al-Insyirah: 7-8
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
2. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu semester dan akhir tahun untuk menentukan jenjang berikutnya, seperti tercantum dalam QS. Al-Insyiqaq: 19
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”
3. Evaluasi penempatan (placement), yaitu evaluasi tentang peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
4. Evaluasi Diagnostik, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik, baik merupakan kesulitan-kesulitan maupun hambatan-hambatan yang ditemui dalam situasi belajar mengajar.





BAB III
KESIMPULAN
1. Evaluasi adalah suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Sedangkan evaluasi pendidikan Islam adalah suatu proses dan kegiatan penilaian yang terencana terhadap peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam untuk mengetahui taraf kemajuan dalampendidikan Islam.
3. Tujuan Evaluasi yaitu : a) mengetahui kadar pemahaman peserta didik; b) mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah; c) mengumpulkan informasi; d) untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam kompetensi/subkompetensi tertentu; e) untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test) dan untuk memberikan arah dan lingkup pengembangan evaluasi selanjutnya.
6. Prinsip Evaluasi, yaitu: valid, berorientasi kepada kompetensi, berkelanjutan/Berkesinambungan (kontinuitas), menyeluruh (Komprehensif), bermakna, adil dan objektif, terbuka, ikhlas, praktis, dicatat, akurat, dan akuntabel.
7. Sistem Evaluasi Pendidikan Islam, yaitu untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi.
 8. Jenis-jenis Evaluasi yaitu: Evaluasi Formatif, Evaluasi Sumatif, Evaluasi penempatan (placement), dan Evaluasi Diagnostik
Demikian makalah yang dapat penulis buat, mudah-mudahan bermanfaat, bagi penulis khususnya dan bagi insan pendidikan umumnya. Allâhu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010
Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, 2012




[1] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010
[2] Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 211.
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, 2012, hal. 401.
[4]  Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Kencana, 2010, hal. 215.

DASAR FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
  A.    LatarBelakangMasalah
Dasar Filosofis Pendidikan Islam padahakikatnyaidentikdengankonsep Filsafat Pendidikan Islam itu sendiri, yangberasaldarisumber yang samayakni al-Qur’an dan al-Hadits (al-Sunnah). Dari Keduasumberitukemudiantimbulpemikiran-pemikirantentangpersoalanke-Islamandalamberbagaiaspek, termasuk landasan dasar Pendidikan Islam. Dengandemikianhasilpemikiran para ‘Ulama sepertiqiyashdanijma’sebagaihasil olah fikir sumberpokoktadiyakni al-Qur’an dan al-Hadits (al-Sunnah). Ajaran yang termuatdalamwahyumerupakandasardarilandasan Pendidikan Islam yang berisiteoriumum tentangPendidikan Islam, dibinaatasdasarkonsepajaran Islam terutamadalamal-Qur’an dan al-Hadits (al-Sunnah). Oleh karena itu, di zaman modern seperti ini sudah banyak orang bahkan “umat muslim” sendiri sudah mulai meninggalkan konsep dasar dalam Pendidikan Islam yang berasas pada dua sumber primer yaitu, al-Qur’an dan al-Hadits (al-Sunnah) dan mulai mengiblat ke arah barat atau Eropa yang jelas-jelas di sana bukan Islam yang benar dipelajari justru mempelajari bagaimana menghancurkan Islam. Dan hadirnya makalah ini mudah-mudah sedikit banyaknya dapat merubah paradigma tersebut demi tercapainya Pendidikan Islam yang sebagaimana telah diaplikasikan dan diaktualisasikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.

B.     RumusanMasalah
Berangkatdarilatarbelakangmasalah yang telahdisebutkandiatas, makadapat di rumuskansebuahmasalahtentangBagaimana Konsep Dasar Filosofis Pendidikan Islam?”


C.    Tujuan Penulisan
Adapuntujuan yang ingindicapaidari penulisan makalahiniadalahuntuk Mengetahui Ayat-Ayat dan Hadits Tentang Dasar Filosofis Pendidikan Islam.

D.    Metodologi Penulisan Tafsir
            Penulisan tafsir makalah yang dilakukan oleh penulis menggunakan metode tafsir maudhu’i[1] dengan mencari dan mengumpulkan data-data ilmiah yang relevan dan objektif dengan tema yang dibahas terutama yang terdapat dalam kitab-kitab tafsirpara‘Ulama, kitab-kitab tafsir dan pendidikan (Tarbiyyah)para salaf al-shalih serta kitab-kitab/bukutafsir dan pendidikan (Tarbiyyah) kontemporer saat ini, karena penulisan makalah ini sangat erat kaitannya dengan pembahasan  yang terdapat pada kitab/buku tersebut.













BAB II
DASAR FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM


A.    Konsep Dasar Landasan Filosofis Pendidikan Islam
Landasan adalah sesuatu yang menjadi sandaran semua dasar dalam suatu bangunan, sedangkan dasar adalah fundamen yang menegakkan suatu bangunan, sehingga menjadi kuat dan kokoh dalam pengembangan pendidikan Islam. Dalam usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan yang tepat sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu, pendidikan Islam sebagai suatu usaha dalam membentuk manusia dan peradabannya harus mempunyai landasan yang kuat ke mana semua kegiatan itu dihubungkan atau disandarkan.[2] Baik sebagai sumber maupun dasar yang menjadi pedoman penerapan dan pengembangannya. Landasan itu terdiri dari al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, mashlahah al-mursalah, istihsan, qiyas dan sebagainya. [3]Dasar dan fundamen dari suatu bangunan adalah bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan keteguhan yang menjadikan tetap berdiri tegaknya bangunan itu.[4]Dengan demikian, fungsi dari suatu landasan pendidikan Islam adalah di samping tegaknya suatu bangunan dalam dunia pendidikan Islam, juga agar bangunan itu tidak akan terombang-ambing oleh berbagai “persoalan” yang mempengaruhinya dan bahkan dia akan semakin kuat dan tegar di dalam menghadapinya.
Dasar filosofis pendidikan Islam merupakan kajian filosofis mengenai pendidikan Islam yang didasarkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para sahabat nabi SAW sebagai sumber
sekunder. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan filsafat Islamadalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafatpendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam.[5]Dasar-dasar pendidikan Islam secara prinsipil diletakkan pada dasar-dasar ajaran Islam dan seluruh perangkat kebudayaannya. Dasar-dasarpembentukan dan pengembangan pendidikan Islam yang pertama dan utamatentu saja al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an misalnya memberikan prinsip
penghormatan kepada akal, bimbingan ilmiah, tidak menentang fitrah manusiadan memelihara kebutuhan sosial yang hal ini sangat penting bagi pendidikan.
Dasar pendidikan Islam selanjutnya adalah nilai-nilai sosial kemasyarakatanyang tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah atas prinsipmendatangkan kemashlahatan dan menjauhkan kemudharatan bagi manusia.Kemudian warisan pemikiran para ulama dan cendekiawan muslim yang
merupakan dasar penting dalam pendidikan Islam.[6] Di samping itu, di bagianlain Azyumardi Azra juga mengemukakan mengenai sumber dan dasarpendidikan Islam adalah al-Qur’an dan as-sunnah serta nilai-nilai, norma dantradisi sosial yang memberi corak keislaman dan dapat mengikuti perkembangannya.[7]
Pendidikan Islam berpangkal dari ajaran Ilahiyah, maka tentu harusbersumber dari kebenaran dan kebesaran Ilahi. Bagi kita sumber kebenaranIlahi telah diperkenalkan kepada manusia melalui para nabi berupa kitab suci.Dari empat kitab suci yang pernah diturunkan sebagai petunjuk umat manusia, maka sejak kehadiran Rasulullah SAW. di muka bumi ini satu yang harusditegakkokohkan yakni al-Qur’an. Di samping itu ketetapan-ketetapan Rasul SAW juga merupakan sumber utama pendidikan Islam.[8]
Pada dasarnya bangunan syari’at dan moralitas Islam itu mempunyai
dua sumber pokok yaitu al-Qur’an al-Karim dan sunnah Nabi SAW.[9] Al-Qur’anadalah kitabullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad bin Abdillah,dengan bahasa Arab yang jelas dan fasih yang secara kronologis diturunkan dalam rentangan waktu kurang lebih 23 tahun, yang memiliki nilai-nilai ibadah. Serta sumber Islam yang kedua adalah al-Sunnah sebagai landasanberfikir dan syari’at terdiri dari segala sesuatu yang berasal dari Rasul saw.
1.      Al-Qur’an (kalamullah)
Al-Qur’an sebagai kalamullah yang mencakup segala aspekpersoalan kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan pencipta-Nya,sesama manusia dan alam semesta yang merupakan persoalan mendasardalam setiap kehidupan manusia. Al-Qur’an memiliki gagasan mendasaryang amat luas dalam berbagai bidang kehidupan manusia yang semuanyadapat dan harus dijadikan sebagai landasan dasar utama dalampengembangan Pendidikan Islam. Kedudukan al-Qur’an dalam kerangkaPendidikan Islam bukan saja sebagai dasar bahkan menjadi sumber yangsangat berharga untuk terus digali, dipahami dan diambil intisarinya untuksenantiasa diaktualisasikan dalam hidup dan kehidupan manusia.
2.      Al-Sunnah al-Shohihah
Al-Sunnah bermakna seluruh sikap, perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW dalam menerapkan ajaran Islam serta mengembangkankehidupan umat manusia yang benar-benar membawa kepada kerahmatanbagi semua alam, termasuk manusia dalam mengaktualisasikan diri dankehidupannya secara utuh dan bertanggung jawab bagi keselamatan dalam kehidupannya. Kedudukan al-Sunnah dalam kehidupan dan pemikiranIslam sangat penting, karena di samping memperkuat dan memperjelasberbagai persoalan dalam al-Qur’an, juga banyak memberikan dasarpemikiran yang lebih kongkret mengenai penerapan berbagai aktivitasyang mesti dikembangkan dalam kerangka hidup dan kehidupan umatmanusia.
3.      Pemikiran Islam
Pemikiran Islam yakni penggunaan akal budi manusia dalamrangka memberikan makna dan aktualisasi terhadap berbagai ajaran Islamyang disesuaikan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zamanyang muncul dalam kehidupan umat manusia dalam berbagai bentukpersoalan untuk dicarikan solusinya yang diharapkan sesuai dengan ajaranIslam.

4.      Sejarah Islam
Sejarah(kebudayaan)Islammerupakansegaladinamikakehidupan dan hasil karya masa lampau yang pernah dan terusdikembangkan dalam kehidupan umat Islam secara terus menerus. Semuaini akan memberikan gambaran bagi pembinaan dan pengembanganPendidikan Islam yang dapat dijadikan landasan sebagai sumber pentingPendidikan Islam.
5.      Realitas Kehidupan
Realitas kehidupan sekarang ini, yakni kenyataan realitas yangtampak dalam kehidupan secara keseluruhan terutama menyangkutmanusia dengan segala dinamikanya, kenyataan alam semesta dengansegala ketersediaannya. Dengan demikian realitas ini menyangkutkehidupan manusia dan berbagai makhluk lainnya serta alam semesta inisemuanya merupakan sumber dalam rangka pengembangan PendidikanIslam.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa landasan dasar filosofis pendidikanIslam adalah suatu dasar, landasan yang menjadi sumber dibangun dandikembangkannya pendidikan Islam baik secara filosofis, maupun teoritis danempiris dalam dunia pendidikan Islam. Dengan demikian dapat dinyatakanbahwa pemikiran mengenai landasan yang menjadi sumber dasar pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah yang menjadi sumber primer lalu pemikiran Islam, sejarah Islam dan realitaskehidupan yang menjadi cabang (furu’) dari pengembangan dua sumber primer tadi. Untuk itu dalam makalah ini sumber yang akan dibahas hanya terpusat pada sumber primer yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah karena dari sinilah ilmu-ilmu Islam yang lain muncul.

B.     Analisis Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Al-Haditsyang Berkaitan dengan Dasar Filosofis Pendidikan Islam
Berikut beberapa ayat-ayat dalam yang secara eksplisit didalamnya terdapat penjelasan tentang dasar atau landasan dalam Pendidikan Islam. Diantaranya Allah SWT berfirman :
1.      Surat al-Baqarah: 129
رَبَّنَا وَٱبعَث فِيهِم رَسُولا مِّنهُم يَتلُواْ عَلَيهِم ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلكِتَٰبَ وَٱلحِكمَةَ وَيُزَكِّيهِم إِنَّكَ أَنتَ ٱلعَزِيزُٱلحَكِيمُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)
Dalam kitab Tafsir al-Muyassar dikatakan maksud dari ayat ini, yaitu
ربنا وابعث في هذه الأمة رسولا من ذرية إسماعيل يتلو عليهم آياتك ويعلمهم القرآن والسنة، ويطهرهم من الشرك وسوء الأخلاق.
Artinya: Ya Tuhan kami utuslah kepada bangsa ini seorang rasul dari keturunan Isma’il yang ia membacakan kepada mereka dan mengajarkan mereka al-Quran (al-Kitab) dan al-Sunnah (al-Hikmah), dan menyucikan diri mereka dari kemusyrikan dan akhlak yang tercela.
Dalam kitab Aisar al-Tafasir syaikh al-Jaza’iri menuturkan,
وابعث فيهم رسولاً: هذا الدعاء استجابه الله تعالى، ومحمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هو ما طلباه.
الكتاب: القرآن.
الحكمة: السنة
يزكيهم: يطهر أرواحهم ويكمل عقولهم، ويهذب أخلاقهم بما يعلمهم من الكتاب والحكمة.
Artinya: “Dan utuslah kepada mereka seorang Rasul: Ini adalah jawaban atas doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT, dan Muhammad SAW adalah jawabannya.
Al-Kitab: Al-Quran.
Al-Hikmah: al-Sunnah
Menyucikan mereka: membersihkan jiwa mereka dan pikiran mereka, memperbaiki akhlak mereka dengan apa yang ada di dalam al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah).”
2.      Surat al-Baqarah: 151
كَمَا أَرسَلنَا فِيكُم رَسُولا مِّنكُم يَتلُواْ عَلَيكُم ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُم وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلكِتَٰبَ وَٱلحِكمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَم تَكُونُواْ تَعلَمُونَ
Artinya: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepada kalian Rasul diantara kalain  yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan mensucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian  al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.”(QS. Al-Baqarah: 151)
Dalam kitab Tafsir al-Muyassar dikatakan maksud dari ayat ini, yaitu
كما أنعمنا عليكم باستقبال الكعبة أرسلنا فيكم رسولا منكم يتلو عليكم الآيات المبينة للحق من الباطل، ويطهركم من دنس الشرك وسوء الأخلاق، ويعلمكم الكتاب والسنة وأحكام الشريعة، ويعلمكم من أخبار الأنبياء، وقصص الأمم السابقة ما كنتم تجهلونه.
Artinya:”Sebagaimana telah kami beri nikmat dengan dikembalikannya Ka’bah, kami utus kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian, yang membacakan kepada kalian ayat-ayat yang jelas lagi haq dari kebatilan, dan menyucikan kalian dari kotoran kesyirikan dan kebrukan akhlak, mengajarkan kepada kalian al-Kitab (al-Qur’an), al-Sunnah dan hukum-hukum Syari’at Islam serta mengajarkan kepada kalian hal-hal dari kabar para nabi, cerita-cerita para pemimpin umat terdahulu yang kalian belum mengetahuinya.”




3.      Surat Ali ‘Imran: 164
لَقَد مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلمُؤمِنِينَ إِذ بَعَثَ فِيهِم رَسُولا مِّن أَنفُسِهِم يَتلُواْ عَلَيهِم ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِم وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلكِتَٰبَ وَٱلحِكمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبلُ لَفِي ضَلَٰل مُّبِينٍ
Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata).” (QS. Ali ‘Imran : 164)
Dalam kitab Tafsir al-Muyassar dikatakan maksud dari ayat ini, yaitu
لقد أنعم الله على المؤمنين من العرب; إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم، يتلو عليهم آيات القرآن، ويطهرهم من الشرك والأخلاق الفاسدة، ويعلمهم القرآن والسنة، وإن كانوا من قبل هذا الرسول لفي غيٍّ وجهل ظاهر.
Artinya: “Berbahagialah orang beriman dari kalangan orang-orang Arab, telah diutusnya seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat al-Quran, dan menyucikan mereka dari kemusyrikan dan sifat perusak, dan mengajarkan mereka al-Qur'an dan al-Sunnah, karena dulu sebelum Rasul ini diutus mereka berada dalam kebodohan (Kejahiliyahan) yang jelas.”
Dalam kitab Aisar al-Tafasir syaikh al-Jaza’iri menuturkan,
من هداية الآيات:
1- تحريم الغلول، وأنه من كبائر الذنوب.
2- طلب رضوان الله واجب، وتجنب سخطه واجب كذلك، والأول يكون بالإيمان وصالح الأعمال والثاني يكون بترك الشرك والمعاصي.
3- الإسلام أكبر نعمة وأجلها على المسلمين فيجب شكرها بالعمل به والتقيد بشرائعه وأحكامه.
4- فضل العلم بالكتاب والسنة.
Artinya: “Rambu-rambu dalam ayat ini meliputi:
a)      Janganlah bersifat ghuluw karena hal itu merupakan dosa yang besar.
b)      Meminta keridhaan Allah adalah wajib, dan wajib pula untuk menghindari murka-Nya, yaitu dengan memiliki iman dan beramal sholih, dan yang kedua dengan meninggalkan syirk dan maksiat.
c)      Islam adalah niikmat terbesar hidup ini bagi seorang Muslim oleh karena itu kita dituntut untuk bersyukur atasnya.
d)     Sesungguhnya keutamaan ilmu ada pada antusias kita pada al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Sunnah.
4.      Surat al-Nisa’: 113
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمً
Artinya: “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS. Al-Nisa’: 113)
Dalam kitab Tafsir al-Muyassar dikatakan maksud dari ayat ini, yaitu
وأنزل الله عليك القرآن والسنة المبينة له، وهداك إلى علم ما لم تكن تعلمه مِن قبل أمرًا عظيمًا.
Artinya: “Allah telah menurunkan kepadamu (Muhammad)al-Qur'an dan    al-Sunnah yang jelas, yang akan membimbingmu akan sesuatu yang belum kau ketahui.”
5.      Surat al-Jumu’ah: 2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an)  dan al-Hikmah (al-Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Dalam kitab Tafsir al-Muyassar dikatakan maksud dari ayat ini, yaitu
الله سبحانه هو الذي أرسل في العرب الذين لا يقرؤون، ولا كتاب عندهم ولا أثر رسالة لديهم، رسولا منهم إلى الناس جميعًا، يقرأ عليهم القرآن، ويطهرهم من العقائد الفاسدة والأخلاق السيئة، ويعلِّمهم القرآن والسنة
Artinya: “Dia-lah yang mengutus atas orang-orang Arab yang tidak bisa membaca, yang mereka tidak memiliki kitab dan juga pesan kepada mereka, Seorang Rasul dari kalangan mereka untuk seluruh umat umat manusia, dibacakan kepada mereka al-Qur'an, dan menyucikan mereka dari doktrin-doktrin dan akhlak yang buruk, dan mengajarkan mereka al-Qur'an dan al-Sunnah.”

C.    Analisis Ayat-Ayat al-Qur’an Tentang Dasar Filosofis Pendidikan Islam
Dari ayat-ayat dan tafsir ringkas yang dipaparkan di atas terdapat kalimat yang sama dan menunjukan tentang dasar filosofis Pendidikan Islam yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW yaitu kalimat al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah). Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah mengajarkan kepada Rasul bagaimana cara mendidik dan mengajarkan para sahabatnya dan kaum muslimin tentang Islam yang benar pada waktu itu yaitu dengan berpedoman kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah). Karena dengan berlandaskan dua landasan primer tersebut konsep Pendidikan Islam akan memiliki arah yang jelas sebagaimana yang telah tertuang dalam penjelasan-penjelasan para ulama yaitu, untuk menyucikan diri-diri umat manusia dari syirk dan akhlak yang buruk, lalu mengajarkan mereka dengan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah).Hal ini selaras dengan hadits nabi SAW yaitu,
يا أيها الناس أني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به، فلن تضلوا بعدي أبدا : كتاب الله و سنة نبيه
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku (Muhammad SAW) telah meninggalkan wasiat kepada kalian, barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya maka ia tidak akan pernah tersesat selamanya, wasiat itu adalah Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim)

D.    Faidah-Faidah Pembahasan Tentang Dasar Filosofis Pendidikan Islam
Pemahaman terhadap ayat-ayat al-qur’an dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan tersebut, amat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Keterkaitan ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
Pertama,tujuan akhir dari pendidikan adalah merubah sikap mental dan perilaku tertentu yang dalam konteks islam adalah agar menjadi seorang muslim yang terbina seluruh potensi dirinya sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai muslim dalam rangka beribadah kepada Allah sesuai dengan pedoman dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.
Kedua, bahwa dalam kegiatan pengajaran tersebut seorang pendidik harus mengajarkan ilmu pengetahuan keislaman yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari proses pengajaran yang demikian itu akan terciptalah pemahaman penghayatan dan pengalaman yang sesuai dengan rambu-rambu keislaman yang bernar.
Ketiga, bahwa melalui pendidikan diharapkan pula lahir manusia yang kreatif, sanggup berpikir sendiri, walaupun kesimpulannya lain dari yang lain, sanggup mengadakan penelitian, penemuan dan seterusnya. Sikap yang demikian itu amat dianjurkan dalam al-Qur’an.
Keempat, bahwa pelaksanaan pendidikan harus mempertimbangkan prinsip pengembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Yaitu pengembangan ilmu pengetahuan keislaman yang ditujukan bukan semata-mata untuk pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan untuk membawa manusia semakin mampu menangkap hikmah di balik ilmu pengetahuan, yaitu rahasia keagungan Allah dari keadaan yang demikian itu, maka ilmu pengetahuan tersebut akan memperkokoh aqidah, meningkatkan ibadah dan akhlak yang mulia.
Kelima, pengajaran berbagai ilmu pengetahuan keislaman dalam proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an, akan menjauhkan manusia dari sikap takabur, sekuler dan ateistik, sebagaimana yang pada umumnya dijumpai pada pengembangan ilmu pengetahuan di masyarakat Barat dan Eropa.
BAB III
PENUTUP



A.    Kesimpulan
Islam sesungguhnya telah memiliki konsep dasar filosofis Pendidikan Islam yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW yaitu berupaal-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah). Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah mengajarkan kepada Rasul bagaimana cara mendidik dan mengajarkan para sahabatnya dan kaum muslimin tentang Islam yang benar pada waktu itu yaitu dengan berpedoman kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) tersebut. Karena dengan berlandaskan dua landasan primer tersebut konsep Pendidikan Islam akan memiliki arah yang jelas sebagaimana yang telah tertuang dalam penjelasan-penjelasan para ulama yaitu, untuk menyucikan diri-diri umat manusia dari syirk dan akhlak yang buruk, lalu mengajarkan mereka dengan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah).Hal ini selaras dengan hadits nabi SAW yaitu,
يا أيها الناس أني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به، فلن تضلوا بعدي أبدا : كتاب الله و سنة نبيه
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku (Muhammad SAW) telah meninggalkan wasiat kepada kalian, barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya maka ia tidak akan pernah tersesat selamanya, wasiat itu adalah Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim)









DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Al-Maktabah al-Syamilah.
Darajad, Zakiah, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma’arif, 1980.
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Azra, Azyumardi, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Sasono, Adi, Solusi Islam Atas Problematika Umat(Ekonomi, Pendidikan dan Dakwah), Jakarta: Gema Insani Press, 1998.
Uweis, Abdul Halim, Koreksi Terhadap Umat Islam Suatu Telaah dan Alternatif Jawabannya, terj. Abu Hurairah., Jakarta: Darul Ulum Press, 1989.
Nata, Abuddin, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy). Jakarta: PT Raja Grafindo, 2010.








[2]Lihat Prof. Dr. Zakiah Darajad, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996, hal. 19.
[3]Ibid., hal. 20-21.
[4]Lihat Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma’arif, 1980, hal. 41.
[5]Lihat Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hal 30-31.
[6]Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 9.
[7]Lihat Prof. Dr. Azyumadi Azra, M.A.,Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 76-77.
[8]Lihat Adi Sasono, Solusi Islam Atas Problematika Umat(Ekonomi, Pendidikan dan Dakwah),Jakarta: Gema Insani Press, 1998, hal. 90.
[9]Lihat Dr. Abdul Halim Uweis, Koreksi Terhadap Umat Islam Suatu Telaah dan Alternatif Jawabannya, terj. Abu Hurairah., Jakarta: Darul Ulum Press, 1989, hal. 39-42.