7/13/14

KARAKTER GURU DALAM KITAB THALIBUL ILMI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardhi (pemelihara) pada alam semesta ini. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus (peserta didik) dengan kemampuan dan keahliannya (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ketengah lingkungan masyarakat yang berbekalkan Nal-Qur’an dan as-Sunnah.
 Karakter adalah hal yang sangat urgen dalam kehidupan ini, bahkan dalam suatu masyarakat, untuk mengukur tingkat ketinggian derajat suatu orang, maka karakterlah tolak ukurnya. Begitupun dengan islam, dalam diin ini karakter sangat di junjung tinggi, bahkan setiap orang wajib berkarakter, karena ia adalah bagian dari iman itu sendiri.
Namun sangat di sayangkan sekali, kebobrokan moral di zaman sekarang sangat merebak, namun para intelek merasa terpukau dengan sistem-sistem barat, sehingga kebobrokan moral yang seharusnya di perbaiki dengan sistem islam, justru hancur karena kekeliruan dalam pengambilan sistem
Selain itu, kerusakan ilmu saat ini sedang menimpa umat islam khususnya di Indonesia. Di lembaga pendidikan umum terjadi kebodohan terhadap ilmu agama. Banyak sarjana-sarjana dalam bidang ilmu pengetahuan ilmu tertentu yang tidak bisa membaca al-Qur’an atau memahami jaran-ajaran pokok agamanya. Padahal ilmu-ilmu agama adalah ilmu yang wajid dimiliki oleh setiap muslim. Akan tetapi yang banyak terjadi, semakin pintar seseorang dalam ilmu tidak semakin menambah keyakinan kepada Rabbnya. Pemisahan nilai-nilai ketuhanan dari ilmu yang dipelajari telah menyebabkan para pelajar sekuler dari nilai-nilai agamanya.
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat berharga demi terciptanya masyarakat yang islami, bahkan ia menjadi tonggak pertama dalam perubahan umat ini. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam adalah tokoh perubah yang menjadikan umat didikannya menjadi umat terbaik di dunia ini, tak ada yang menandingi apa yang beliau peroleh dari proses tarbiah tersebut. Maka apabila umat ini menginginkan sebuah perubahan, kembalilah dengan apa yang  Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam jalankan, yaitu tarbiah. Namun sangat di sayangkan sekali orang-orang yang menginginkan perubahan tersebut tidak meniru jalan yang di tempuh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja nilai pendidikan karakter yang termaktub  dalam  surat al-Hujurat ayat 10
2.      Apa saja nilai pendidikan karakter yang termaktub  dalam  surat al-Hujurat ayat 11
3.      Apa saja nilai pendidikan karakter yang termaktub  dalam  surat al-Hujurat ayat 12
4.      Apa saja nilai pendidikan karakter yang termaktub  dalam  surat al-Hujurat ayat 13

C.     Tujuan
1.      Mengetahui Profil Seorang Pendidik dalam Surat al-Hujurat dan Relevansinya dengan Model Pendidikan Karakter.
2.      Dengan mengetahui apa nilai-nilai karakter yang termaktub, di harapkan hal tersebut bisa di implementasikan, agar terciptanya proses pendidikan yang kondusif, dan hal tersebut berakibat pada terciptanya masyarakat yang terdidik sesuai dengan nilai-nilai islam.






BAB  II
PEMBAHASAN
A.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 10
1.      Persaudaraan sesama muslim
Dalam surat al-Hujurat ayat ke 10 di sebutkan bahwa:
                                 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Allah Ta'ala menegaskan dalam ayat ini, bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara. seperti hubungan persaudaraan satu nasab, bahkan lebih dari itu. Karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal.
Setiap muslim memiliki hak atas saudaranya yang sesama muslim.
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dari Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu “Orang muslim itu adalah saudara orang muslim,jangan berbuat aniaya kepadanya, jangan membuka aibnya, jangan menyerahkannya kepada musuh, dan jangan meninggikan bagian rumah sehingga menutup udara tetangganya kecuali dengan izinnya, jangan mengganggu tetangganya dengan asap makanan dari baunya kecuali jika ia memberi semangkuk dari kuahnya. Jangan membeli buah-buahan untuk anak-anak, lalu dibawa keluar (diperlihatkan) kepada anak-anak tetangganya kecuali jika mereka diberi buah-buahan itu. “Kemudian Nabi saw bersabda, “Peliharalah (norma-norma pergaulan) tetapi (sayang) hanya sedikit di antara kamu yang memeliharanya[1].
     
      Dalam tafsir ibnu katsir di jelaskan bahwa tafsir dari ayat ini adalah,(إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ) bahwa semua orang beriman adalah bersaudara dalam agama. (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ) karena itu damaikanlah kedua saudaramu, yakni dua kubu yang saling bertikai. (وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ), ini penegasan dari Allah Ta'ala bahwa dia akan memberikan rahmat-Nya kepada siapa yang bertakwa[2].
Maka dari itu dalam hal ini, sebaiknya seorang pendidik agar bersikap layaknya seorang saudara terhadap saudaranya, dengan rasa cinta kasih, keramahan, dan rasa-rasa yang mengarah kepada kebaikan. Bukan malah sebaliknya, seorang pendidik yang menebarkan virus-virus kebencian dan permusuhan, justru akan berimbas pada output didikan yang gagal.


B.     Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 11

1.      Pendidikan menghormati sesama muslim

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.[3]

Dalam surat Al Hujurat ayat 11 ini bisa kita jumpai, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam yang selalu menerima petunjuk dari Allah 'Azza wajalla untuk mendidik dan mengobati penyakit-penyakit moral yang terjangkit di hati-hati kaumnya.
Dengan cara menghidupkan tata karma, hidup sopan, serta berhati dan berbudi luhur, menghilangkan segala macam permusuhan dan kedengkian sehingga umat islam bersih dari segala kerendahan akhlak dan hidup dalam suasana persaudaraan Islam[4].
Ada beberapa sifat tercela yang diperintah oleh Allah dalam Al Qur’an surat al-Hujurat ayat 11 ini untuk dihindari oleh setiap muslim, berikut uraiannya :






a.      Mengolok-olok (merendahkan)

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
Artinya: Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik[5].
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, Allah Ta'ala melarang kita untuk menghina orang lain, yakni dengan meremehkan dan mengolok-olok[6]. Perbuatan tersebut di larang karena barangkali orang yang di hina tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah ta’ala, dan lebih di cintai-Nya.
Abu Bakr Jabir al-Jazairi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, termasuk factor-faktor pertikaian dan peperangan adalah seorang mukmin yang mengolok-olok saudaranya dan menghinanya karena keadaannya yang lemah atau bajunya yang jelek atau penghasilannya yang sedikit, maka Allah ta’ala dalam ayat ini mengharamkan atas setiap muslim untuk menghina saudaranya yang muslim dan mengejeknya dengan memberikan isyarat bahwa orang yang di rendahkan, di hina, dan diejek pada umumnya lebih baik di mata Allah dari pada orang yang mengejeknya. Dan yang di jadikan standar adalah apa yang di sisi Allah, bukan apa yang ada pada manusia. Dalam hal ini, antara laki-laki dan perempuan hukumnya sama saja, maka seorang wanita mukminah tidak boleh merendahkan saudarinya yang mukminah, karena kemungkinan orang yang di hina itu lebih baik di sisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina. Dan yang di jadikan standar adalah apa yang ada di sisi Allah bukan apa yang ada pada manusia.
Pendidikan Islam memang tidak berhenti hanya pada menyuruh berbuat baik dan melarang (mencegah) yang mungkar, akan tetapi juga selalu memperhatikan segala segi yang berhubungan dengan masyarakat, y dalam surang bertujuan agar masyarakat Islam terhindar dari segala macam penyakit baik jasmani maupun rohani[7].
Penegasan dari Allah agar tidak saling mengolok-olok, sebenarnya mengandung makna yang sangat halus. Pada umumnya penilain seseorang manusia pada dirinya sendiri tidak tepat. Orang yang mengolok-olok biasanya menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Karena itu Allah ta’ala mengingatkan, barangkali orang yang di hina tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah ta’ala, dan lebih di cintai-Nya.
Maka dalam frame pendidikan islami, seyogyanya seorang guru tidak mengolok-olok (merendahkan) anak didiknya, karena hal itu berpengaruh pada output didikannya nanti. Tak mungkin didikan dengan cara mengolok-olok akan menghasilkan sebuah output yang maksimal, karena hal tersebut malah akan membuat adanya permusuhan antara pendidik dan objek didikan. Bahkan dalam tafsir al-aitsar di tegaskan bahwa, “janganlah sebagian kalian menghina sebagian yang lain dengan celaan bentuk apapun, karena kalian bagian satu tubuh, maka barang siapa yang mencela saudaranya yang muslim seakan-akan ia mencela dirinya sendirinya.[8]
b.      Saling mencela

وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ
Artinya: Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[9].

Imam ibnu katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan mengenai ayat ini, yaitu janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang yang tercela dan terlaknat[10], Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Mujahid, Sa’id bin Zubair, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan berkata mengenai tafsir surat ini adalah janganlah kalian saling memfitnah satu sama lain.[11]
Ayat ini juga mengandung makna, janganlah kalian melakukan sesuatu yang dapat membuat kalian dicela karenanya. Kalau seseorang mencela orang lain secara tidak langsung berarti ia mencela dirinya sendiri, karena pada dasarnya umat islam adalah satu tubuh. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mentarbiah para sahabatnya agar selalu menjauhi sifat tercela  ini, sebab hal ini menyangkut kehormatan orang lain.
Pendidikan islam mengajarkan tentang kelembutan, dan hal ini bisa tercapai apabila tidak ada salah satu pihak yang merasa terdzalimi, salah satu sikap yang dapat menghancurkan harmonisasi antara pendidik dan objek didikannya  ialah ketika pendidik tidak bersikap seyogyanya seorang pengayom. Maka sikap pendidik yang demikian ini tidak baik untuk berlangsungnya proses pendidikan. Tak mungkin harmonisasi ini tecipta dengan sikap saling mencela.

c.       Memanggil dengan gelar yang buruk

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ

Artinya :
Dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [12].
      Imam ibnu katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, yaitu janganlah kalian saling memanggil dengan julukan yang tidak baik untuk di dengar[13]. Sedangkan dalam tafsir al-Aisar di jelaskan janganlah seorang muslim memanggil saudaranya yang muslim dengan gelar yang tidak di sukainya, karena hal itu akan menimbulkan peperangan[14]. Oleh karena itu tak halal bagi setiap muslim memanggil saudaranya yang muslim dengan sebutan yang membuat saudaranya tersebut tersakiti hatinya, misalnya menyebutnya dengan gelar fasiq, pelacur, anak pelacur ataupun sebutan-sebutan yang lainnya.
Ini bisa menyebabkan bergejolaknya hati dan permusuhan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi atau sombong.

C.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 12

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

      Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang[15].

      Di ayat ini kami membahas 3 pembahasan, yaitu:

a.      Larangan berprasangka buruk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari buruk sangka itu dosa[16].

Ayat ini di buka dengan panggilan iman, ini menegaskan bahwa hal ini di tujukan kepada orang-orang beriman secara khusus, dan ini adalah panggilan kesayangan Allah ta’ala kepada hambanya. Melalui panggilan iman ini di harapkan yang di panggil tersebut memperhatikan dengan seksama.
Setelah Allah memanggil orang-orang beriman dengan sebutan kesayanganya, kemudian Allah ta’ala menjelaskan maksu panggilannya. Dalam tafsir al-aisar di jelaskan, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, yaitu semua yang di sangka oleh seseorang tanpa adanya bukti-bukti yang membenarkannya[17]. Karena prasangka yang buruk menimbulkan perkataan yang batil, perbutan salah, dan terbengkalainya kebaikan, bahkan hal itu menjadi dosa besar. Pergaulan yang baik hanya akan terwujud apabila hati  kaum muslimin terbebas dari prasangka-prasangka yang tidak baik.
Maka dari itu pendidikan islami harus berkarakter sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mentarbiah sahabatnya dengan akhlak-akhlak yang terpuji, berprasangka buruk terhadap saudaranya, apalagi seorang pendidik kepada anak didiknya akan mengakibatkan hubungan yang kurang harmonis antara keduanya, ketidak percayaan diantara keduanya akan mengakibatkan kerenggangan hubungan yang berakibat pada proses pendidikan yang buruk. Oleh sebab itu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, tak pernah sama sekali berprasangka buruk terhadap sahabatnya, beliau hanya menilai dari sisi dzahirnya saja.

b.      Tajassus
وَلَا تَجَسَّسُوا
Artinya: Dan janganlah mencari-cari keburukan orang[18].

Kata tajassus pada umumnya di pakai untuk hal-hal yang tidak baik. Oleh sebab itu mata-mata dalam bahasa arab di sebut dengan al-jaasus[19]. Al-Auza’i berkata, tajassus adalah mencari sesuatu, sedangkan tahassus adalah menguping pembicaraan sekelompok orang, sedangkan mereka itu tidak suka jika pembicaraan  itu di dengar oleh orang lain[20].
Mencari-cari kesalahan orang lain berarti pula mencari aib atau cacat seseorang, dan merupakan sebuah hal yang dilarang keras dalam ajaran Islam. Dalam norma kehidupan masyarakat yang Islami, setiap individu berhak hidup dengan rasa aman dengan sesuatu yang bersifat privasi, dan ini merupakan hak asasi bagi setiap manusia.
Tidak berhak seseorang untuk menyelidiki keadaan batin dan rahasia orang lain. Betapa besar perhatian Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dalam membersihkan penyakit-penyakit yang terdapat di setiap dada kaumnya, sehingga terciptalah lingkungan kehidupan masyarakat Islami yang terbebas dari penyakit tajassus ini. Hasilnya terbukti pada karakter semua sahabat radhiallahu ‘anhum. Para sahabat tidak akan mengambil sebuah keputusan kecuali terhadap yang dhohir dan ada bukti nyata.
c.        Ghibah
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya: Dan janganlah kalian  menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya[21].
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mendefinisikan sifat ini dalam haditsnya, yaitu “pembicaraan tentang saudaramu yang tidak ia sukai”[22].Ghibah berarti menyebut-nyebut suatu keburukan orang lain yang tidak disukainya, sedangkan orang yang di bicarakannya tersebut tidak berada ditempat. Terdapat peringatan keras dalam masalah ghibah, karena itulah Allah ta’ala menyamakan pelakunya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri[23].
Menurut K.H. Masruri Abdul Mughni ghibah boleh dilakukan seperti halnya oleh seorang guru yang membicarakan keadaan muridnya di dalam rapat guru, misalnya adalah rapat kenaikan kelas yang membahas masalah tingkah laku murid tersebut, apakah ia berhak untuk naik kelas atau tidak[24].
Islam mengajarkan kepada umatnya agar menahan lidahnya dari menyakiti saudaranya yang muslim dari amaliah lidahnya.





D.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 13
1.      Pendidikan sosial kemasyarakatan 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
      Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal[25].

      Tidak dapat di pungkiri lagi, bahwa manusia adalah makhluk sosial, setiap individu manusia pasti membutuhkan manusia lainnya. Maka dengan hal ini, manusia saling bekomunikasi agar terciptanya masyarakat yang ideal. Seperti rasa cinta kepada yang lain, hubungan kekeluargaan yang harmonis, adil terhadap sesamanya, ramah tamah, santun, dan lain sebagainya.
      Allah ta’ala berfirman seraya memberitahukan kepada manusia bahwa dia menciptakan mereka (manusia) dari satu jiwa, dan dari jiwa tersebut di ciptakan jodohnya. Keduanya adalah adam dan hawa. Kemudian mereka dijadikan berbangsa-bangsa yang lebih besar daripada kabilah. Sesudah kabilah terdapat tingkatan-tingkatan lainnya yang lebih kecil seperti golongan, keturunan, marga dan lain sebagainya[26].
Dalam konsep islam, perbedaan warna kulit, suku, dan bangsa, bertujuan untuk saling mengenal. Perbedaan tersebut bukan dimaksudkan untuk pertentangan atau saling mengungguli satu sama lain, namun dimaksudkan untuk saling tolong-menolong di dalam kebaikan.
Yang membedakan mereka hanyalah masalah agama, yaitu tingkat ketaatan kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Karena itulah setelah perbuatan menggunjing dan menghina orang lain, Allah ta’ala berfirman mengingatkan mereka adalah manusia yang mempunyai kesamaan martabat[27]. Islam rahmatan li al-‘aalamin, oleh sebab itu ajarannya menafikan yang namanya fanatik keturunan, seperti yang biasa di lakukan orang arab jahiliah, dan fanatik kedaerahan seperti yang di lakukan orang-orang himyar, kesemuanya adalah warisan jahiliyah.

Prinsip saling mengenal dijadikan sebagai dasar hubungan antar lingkungan sosial, karena dari perkenalan itu akan timbul saling pengertian yang merupakan pangkal kerja sama yang dibutuhkan dalam upaya membina pergaulan yang saling menguntungkan. Hal ini ditujukan agar terciptanya kemaslahatan, hidup damai, adil dan sejahtera[28]. Begitupun dalam masalah pendidikan, maka hal ini sangat di butuhkan agar terjadinya hubungan yang erat antara peserta didik dan pendidik. Perbedaan adalah sifat masyarakat, namun hal ini tidak lantas dijadikan sebuah pertentangan. Sebaliknya perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja sama yang dapat menguntungkan semua pihak[29].

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
      Makalah yang telah kami susun, telah menyebutkan sebagian cara Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dalam mentarbiah umatnya, sehingga dengan proses tersebut, terjadilah gelombang perubahan secara besar-besaran dalam peradaban umat ini. Maka dari itu sikap kita sebagai seorang  yang menginginkan sebuah gelombang perubahan menuju terciptanya masyarakat yang mengabdi hanya pada Allah, yaitu masyarakat islami.
      Dalam surat Al Hujurat ini bisa kita jumpai, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam yang selalu menerima petunjuk dari Allah 'Azza wajalla untuk mendidik dan mengobati penyakit-penyakit moral yang terjangkit di hati-hati kaumnya. Dengan cara menghidupkan tata karma, hidup sopan, serta berhati dan berbudi luhur, menghilangkan segala macam permusuhan dan kedengkian sehingga umat islam bersih dari segala kerendahan akhlak dan hidup dalam suasana persaudaraan Islam.
                                    Nilai-nilai yang terkandung ialah:
A.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 10
1.      Persaudaraan sesama muslim
Seorang pendidik harus bersikap layaknya seorang saudara terhadap saudaranya, dengan rasa cinta kasih, keramahan, dan rasa-rasa yang mengarah kepada kebaikan. Bukan malah sebaliknya, seorang pendidik yang menebarkan virus-virus kebencian dan permusuhan, justru akan berimbas pada output didikan yang gagal.
B.     Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 11
1.      Pendidikan menghormati sesama muslim
Hal ini di bagi menjadi tiga larangan:
a)      Mengolok-olok (merendahkan)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, Allah Ta'ala melarang kita untuk menghina orang lain, yakni dengan meremehkan dan mengolok-olok[30]. Perbuatan tersebut di larang karena barangkali orang yang di hina tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah ta’ala, dan lebih di cintai-Nya.

b)      Saling mencela
Ayat ini juga mengandung makna, janganlah kalian melakukan sesuatu yang dapat membuat kalian dicela karenanya. Kalau seseorang mencela orang lain secara tidak langsung berarti ia mencela dirinya sendiri, karena pada dasarnya umat islam adalah satu tubuh. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mentarbiah para sahabatnya agar selalu menjauhi sifat tercela  ini, sebab hal ini menyangkut kehormatan orang lain.

c)      Memanggil dengan gelar yang buruk
Imam ibnu katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, yaitu janganlah kalian saling memanggil dengan julukan yang tidak baik untuk di dengar[31]. Sedangkan dalam tafsir al-Aisar di jelaskan janganlah seorang muslim memanggil saudaranya yang muslim dengan gelar yang tidak di sukainya, karena hal itu akan menimbulkan peperangan[32].

C.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 12
1.      Larangan berprasangka buruk.
Dalam tafsir al-aisar di jelaskan, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, yaitu semua yang di sangka oleh seseorang tanpa adanya bukti-bukti yang membenarkannya[33]. Karena prasangka yang buruk menimbulkan perkataan yang batil, perbutan salah, dan terbengkalainya kebaikan, bahkan hal itu menjadi dosa besar. Pergaulan yang baik hanya akan terwujud apabila hati  kaum muslimin terbebas dari prasangka-prasangka yang tidak baik.
2.      Tajassus
Tidak berhak seseorang untuk menyelidiki keadaan batin dan rahasia orang lain. Betapa besar perhatian Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dalam membersihkan penyakit-penyakit yang terdapat di setiap dada kaumnya, sehingga terciptalah lingkungan kehidupan masyarakat Islami yang terbebas dari penyakit tajassus ini.
3.      Ghibah
Terdapat peringatan keras dalam masalah ghibah, karena itulah Allah ta’ala menyamakan pelakunya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri[34].
Menurut K.H. Masruri Abdul Mughni ghibah boleh dilakukan seperti halnya oleh seorang guru yang membicarakan keadaan muridnya di dalam rapat guru, misalnya adalah rapat kenaikan kelas yang membahas masalah tingkah laku murid tersebut, apakah ia berhak untuk naik kelas atau tidak[35].

D.    Nilai-nilai yang terkandung dalam ayat ke 13
1.      Pendidikan sosial kemasyarakatan 
Dalam konsep islam, perbedaan warna kulit, suku, dan bangsa, bertujuan untuk saling mengenal. Perbedaan tersebut bukan dimaksudkan untuk pertentangan atau saling mengungguli satu sama lain, namun dimaksudkan untuk saling tolong-menolong di dalam kebaikan. Yang membedakan mereka hanyalah masalah agama, yaitu tingkat ketaatan kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya




DAFTAR PUSTAKA

      Al-Qur’an.
      Katsir, Ibnu. 2006. Tafsir Ibnu Katsir, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.
      Jabir al-Jazairi, Abu Bakr. 2009. Tafsir al-Qur’an al-Aisar. Jakarta timur: Darus Sunnah.



[1]  HR Bukhari
[2]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 474
[3]  Surat al-Hujurat ayat 11
[5]  Surat al-Hujurat ayat 11
[6]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir: Bogor 2006 hal. 475
[7]  Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Qur’an al-Aisar, Darus Sunnah: Jakarta timur 2009 hal. 915
[8]  Ibid
[9]  Surat al-Hujurat ayat 11
[10] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 475
[11] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 476
[12] Surat al-Hujurat ayat 11
[13] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 476
[14] Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Qur’an al-Aisar, Darus Sunnah: Jakarta timur 2009 hal. 915
[15]  Surat al-Hujurat ayat 12
[16]  Ibid
[17]  Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Qur’an al-Aisar, Darus Sunnah: Jakarta timur 2009 hal. 916
[18]  Surat al-Hujurat ayat 12
[19]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 479
[20]  Ibid
[21]  Surat al-Hujurat ayat 12
[22]  HR al-Tirmidzi
[23]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 480
[25] Surat al-Hujurat ayat 13
[26]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 484
[27]  Ibid
[29]  Ibid
[30]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir: Bogor 2006 hal. 475
[31] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 476
[32] Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Qur’an al-Aisar, Darus Sunnah: Jakarta timur 2009 hal. 915
[33]  Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Qur’an al-Aisar, Darus Sunnah: Jakarta timur 2009 hal. 916
[34]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir:Bogor 2006 hal. 480