11/28/16

Merawat Indonesia Melalui Teladan Abdurahman Ibn ‘Auf

Indonesia adalah negara berkembang yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau ini telah dianugerahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, tanahnya yang subur dan cuaca yang sejuk di bawah garis katulistiwa. Keindahan Indonesia semakin bertambah dengan beragamnya mata pencaharian dan suku bangsa yang tinggal di nusantara ini. Kekayaan dan keindahan yang dimiliki oleh negara ini harus kita jaga, supaya nikmat yang telah Allah berikan senantiasa bertambah dan penuh dengan keberkahan. Dan salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk memelihara negara ini adalah dengan meneladani figur para sahabat Rosululloh  dalam seluruh aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam bidang pengelolaan harta melalui bisnis.

Adalah Abdurahman Ibn ‘Auf, sahabat Rosululloh yang terkenal dengan kemampuannya dalam berbisnis. Beliau adalah salah seorang sahabat yang termasuk dalam kelompok yang berhijrah (Muhājirīn) bersama Rosululloh dan dipersaudarakan dengan salah seorang penduduk Madinah (Anshār) yang terkenal kaya dan pemurah bernama Sa’ad Ibn Rabi’. Abdurahman Ibn ‘Auf pernah ditawari oleh Sa’ad Ibn Rabi’ untuk mengambil sebagian hartanya dan menikahi salah satu istrinya setelah diceraikan, akan tetapi  beliau menolak dengan halus dan berkata, “Tidak, terima kasih. Tolong tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar di sini.”
Alangkah mulianya jawaban beliau. Jawaban yang menunjukan betapa qona’ah dan bersihnya hati beliau menjadi isyarat bahwa kepercayaan diri dan ketawakalannya kepada Alloh sangat luar biasa dan memiliki ‘mental kaya’ yang cukup kuat. Salah satu yang menarik dari pribadi beliau adalah keyakinannya yang baik akan potensi dirinya. Kalimat mashyur dan fenomenal yang pernah beliau katakan adalah, “Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu, niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak”. Dalam hal ini Abdurahman Ibn ‘Auf memberikan contoh konsep diri yang baik. Konsep diri berupa keyakinan akan potensi yang luar biasa yang ada pada setiap diri manusia, itulah optimis. Kalimat tersebut bukanlah merupakan isyarat kesombongan dari Abdurrahman Ibn ’Auf, melainkan sebuah pandangan positif terhadap potensi yang diberikan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Karena sesungguhnya karunia Alloh begitu luas di semesta raya ini. Persoalannya tinggal bagaimana kita mampu menggali kemudian mengembangkan potensi dan karunia Alloh tersebut.
Optimisme beliau dalam mengelola harta dan mendapatkan rezeki menjadikan dirinya seorang saudagar yang kaya raya, bahkan orang terkaya di Madinah saat itu. Kekayaanya sangat melimpah. Pernah suatu ketika, suasana kota Madinah yang aman dan tenteram terusik oleh adanya debu tebal yang terlihat mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota. Penduduk Madinah mengira bahwa ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Setelah beberapa saat, mulailah terlihat bahwa ternyata dibalik debu yang mengepul tersebut adalah rombongan kafilah dagang Abdurahman Ibn ‘Auf sebanyak 700 kendaraan yang berisi muatan barang dagangan berupa gandum, tepung, minyak, pakaian, barang-barang pecah-belah, wangi-wangian, kebutuhan dan perlengkapan sehari-hari lainnya.
Kelebihan harta yang beliau miliki tidak menjadikan dirinya sombong dan melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba kepada Tuhannya, akan tetapi beliau malah semakin ringan dalam berinfaq dan berjihad dengan harta fī sabīlillāh. Pernah suatu ketika beliau berinfaq sejumlah 200 ‘uqiyah emas untuk memenuhi kebutuhan medan jihad di Tabuk. Para sahabat sempat mengira bahwa mungkin Abdurahman Ibn ‘Auf khilaf, karena tidak meninggalkan bekal sedikitpun untuk keluarganya. Kemudian Rosululloh   bertanya kepada beliau, “Apakah engkau meninggalkan bekal untuk keluargamu?” “Iya, wahai Rasululloh. Mereka saya tinggalkan sesuatu yang lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya infakkan” jawab Abdurrahman Ibn ‘Auf. “Berapa?” tanya Rosululloh . Dengan sangat mantap Abdurahman Ibn ‘Auf menjawab, “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Alloh”. Mendengar jawaban tersebut, Rosululloh mendoakan kebaikan untuknya. MaasyaAlloh, begitu mulianya jawaban beliau.
Rahasia kesuksesan Abdurahman Ibn ‘Auf tidaklah begitu rumit. Yang menjadikan bisnisnya berhasil dan syarat akan keberkahan adalah karena beliau selalu mengutamakan predikat halal dalam setiap modal dan barang yang diperjual belikan serta menjauhkan diri dari perbuatan yang haram maupun syubhat. Selain itu, faktor yang semakin menambah keberkahan dalam bisnisnya adalah karena keuntungan dari bisnisnya tidak digunakan untuk memperkaya dirinya sendiri.
Meskipun keuntungannya diperoleh atas kepandaiannya dalam berbisnis, Abdurahman Ibn ‘Auf tidak pernah lupa untuk membelanjakan sebagian hartanya di jalan Alloh. Selain digunakan untuk menafkahi diri dan keluarganya, hartanya juga dipergunkan untuk menyediakan perlengkapan yang diperlukan oleh tentara kaum muslimin dalam rangka berjihad fī sabīlillāh.
Setelah mengetahui dan menyelami sifat dan kepribadian Abdurrahman Ibn Auf, hendaknya seluruh kaum muslimin yang tinggal di Nusantara ini meneladani beliau dalam hal keimanan, kezuhudan, semangatnya dalam berjihad dengan jiwa maupun harta, kepercayaan akan potensi diri dan bagaimana cara untuk mengelola harta dengan baik melalui bisnis. Sepandai apapun seseorang dalam menumbuh kembangkan harta, jangan sampai menjadikan dirinya lupa akan hakikat darimana rezekinya berasal dan siapa dirinya di hadapan Alloh. Semua yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan dan sebaik-baik harta yang kita miliki adalah yang diinfakkan di jalan Alloh. Demikianlah inti dari keteladanan Abdurahman Ibn ‘Auf. Semoga kita dan seluruh kaum muslimin yang ada di Indonesia mampu untuk meneladani beliau sehingga kekayaan dan keindahan yang dimiliki oleh negara ini senantiasa terawat dan diberkahi oleh Alloh. Aamiin.



EmoticonEmoticon