MASA PEMERINTAHAN UTSMAN BIN AFFAN SEBAGAI KHALIFAH


Tatkala ‘Umar   mendapat tikaman, beliau menyerah-kan masalah kenegaraan kepada enam orang sahabat. Sete-lah ‘Umar   dikuburkan, keenam sahabat utama tersebut berkumpul. Keenam sahabat tersebut bermusyawarah untuk memilih khalifah hingga pada akhirnya mereka memilih ‘Utsman  . ‘Utsman   sama sekali tidak pernah berambisi untuk memegang kendali kekuasaan itu. Saat beliau dibai’at sebagai khalifah, beliau telah berusia 70 tahun.

Khutbah ‘Utsman bin ‘Affan   Ketika Dibai’at

Khutbah pertama ‘Utsman bin ‘Affan   di hadapan kaum Muslimin, seperti yang diriwayatkan oleh Saif bin ‘Umar dari Badr bin ‘Utsman dari pamannya berkata, “Ke-tika Dewan Syura membai’at ‘Utsman bin ‘Affan, dengan keadaan orang yang paling sedih di antara mereka, beliau keluar dan menaiki mimbar Rosululloh   dan memberikan khutbahnya kepada orang banyak. Beliau memulai dengan memuji Alloh dan bershalawat kepada Nabi   dan berkata, “Sesungguhnya kalian berada di kampung persinggahan dan sedang berada pada sisa-sisa usia, maka segeralah me-lakukan kebaikan yang mampu kalian lakukan. Kalian telah diberi waktu pagi dan sore. Ketahuilah bahwa dunia dipenuhi tipu daya, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia ini memperdayakan kalian, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kalian dalam (menaati) Alloh. Ambillah pelajaran dari kejadian masa lalu kemudian bersungguh-sungguhlah dan jangan lalai, karena setan tidak pernah lalai terhadap kalian. Mana putra-putra dunia dan temannya yang terpengaruh dengan dunia akan menghabiskan usianya untuk bersenang-senang. Tidakkah mereka jauhi semua itu!! Buanglah dunia sebagaimana Alloh membuangnya, carilah akhirat karena sesungguhnya Alloh telah membuat permisalan dengan yang paling baik. 

Alloh   berfirman:

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turun-kan dari langit, maka menjadi subur karenanya tum-buh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Alloh, Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Harta dan anak-anak adalah perhiasan ke-hidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi sholeh adalah lebih baik pahalanya di sisi Robbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi [18]: 45-46)Kemudian umat manusia berdatangan untuk membai’at-nya sebagai khalifah.

BACA JUGA : PERJUANGAN UTSMAN BIN AFFAN BERSAMA RASULULLAH

Beberapa Penaklukan Besar Pada Masanya 

Masa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan   dipenuhi dengan banyak penaklukan sebagai penyempurna penakluk-an di masa pemerintahan ‘Umar  . Penaklukan yang di-lakukan selalu berlanjut, baik melalui jalur darat maupun laut. Beliau melanjutkan kebijakan Khalifah sebelumnya, ‘Umar bin al-Khaththab   dalam jihad. Di antara penakluk-an-penaklukan besar tersebut ialah:

Di wilayah Barat

Rakyat  Iskandariyah (Mesir) yang nasrani mem-berontak terhadap pemerintahan Islam pada tahun 25 H/645 M, yang kemudian ditaklukkan oleh ‘Amr bin al-‘Ash  .

‘Utsman   mengizinkan pasukan Islam untuk me-lakukan penaklukan ke seluruh benua Afrika. Maka, berangkatlah ‘Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah   hing-ga berhasil menaklukan Tharablis (Tripoli) di wilayah Libia sekarang. Kemudian mereka berhadapan dengan pasukan Byzantium (Romawi) di Sabithalah dan berhasil mengalahkan mereka pada tahun 27 H/647 M.

Dengan demikian, bergabunglah Barqah, Tharablis, dan wilayah Barat Mesir, serta sebagian Naubah ke dalam wilayah pemerintahan Islam.
Sedangkan Mu’awiyah   melakukan serangan ke Siprus dan berhasil menaklukkannya pada tahun 28 H/648 M. ‘Umar   tidak mengizinkan pasukan Islam melakukan penyerbuan melalui laut, namun ‘Utsman   justru mengizinkannya.

Perang Dzatush Shawari (31 H/651 M)

Perang ini merupakan perang laut pertama yang di-alami kaum Muslimin. Di masa pemerintahan ‘Utsman  , kaum Muslimin telah memiliki pasukan laut. Pa-sukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi di pantai Kilikiya. Pasukan Romawi mengalami kekalahan yang sangat telak dalam perang ini. Panglimanya yang bernama Kaisar Konstantin bahkan mati terbunuh.

Mu’awiyah   terus melakukan penyerangan ke wilayah Romawi hingga mencapai Amurriyah, sebuah wilayah dekat Ankar, pada tahun 33 H/653 M.

Di Wilayah Timur

Panglima ‘Umair bin ‘Utsman   sampai ke Far-ghanah pada tahun 29 H/649 M. Sedangkan, ‘Abdullah al-Laitsi   mencapai Kabul, ‘Abdullah at-Tamimi   sampai ke sungai Hindustan dan Sa’id bin al-’Ash   berhasil menaklukkan Jurjan.
Persia melakukan pemberontakan, namun berhasil dipatahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amir  . Akhirnya, Yazdajir melarikan diri ke Karman, kemudian ke Khu-rasan dan terbunuh di tempat tersebut. Wilayah-wi-layah yang melanggar kesepakatan kembali berhasil ditaklukkan.
Demikianlah penaklukan terjadi pada masa ke-khalifahan ‘Utsman  . Pada masanya telah terjadi per-luasan beberapa wilayah ke dalam pangkuan Islam. Misalnya di Afrika, Siprus, Armenia, Sind, Kabul, Far-ghanah, Balakh dan Herat di Afghanistan. Kemudian dilakukan penaklukan ulang terhadap negeri-negeri yang melanggar janji, seperti di Persia, Khurasan, atau Babul Abwab.

Peristiwa Fitnah

Sebagian besar masa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan   dilalui dengan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Namun demikian, Alloh   menghendaki pada akhir masa pemerintahannya terjadi gejolak. Terjadi fitnah kubra (ben-cana besar) yang kemudian mengakibatkan terbunuhnya ‘Utsman   secara terzalimi dan terjadi perpecahan umat serta renggangnya kesatuan mereka.
Semua itu kemungkinan besar disebabkan adanya pe-rubahan kondisi dunia Islam pada masa pemerintahan be-liau, dimana wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan banyaknya negeri-negeri yang masuk ke dalam pangkuan Islam. Kini dalam Islam telah masuk berbagai ras dan bangsa yang berbeda. Sehingga, ada kesulitan untuk menyatukan mereka dalam satu manhaj. Di samping itu, mereka adalah pemeluk Islam baru dan Islam pun belum mengakar dalam diri mereka.

Di sisi lain, kekayaan kaum Muslimin pada saat itu de-mikian banyak, sehingga manusia cenderung untuk boros dan senang untuk bersantai ria. Pada saat yang sama, sahabat-sahabat Rosululloh   telah menyebar ke berbagai tempat dan pelosok. Sedangkan Khalifah ‘Utsman   dikenal se-bagai sosok yang lemah lembut, sangat penyabar dan sangat kasih sayang pada setiap orang. Beliau selalu menjauhi tin-dakan yang mengarah pada pertumpahan darah. Ditambah lagi usianya sudah sangat tua, yaitu 82 tahun.

Perubahan ini mendorong orang-orang yang ingin me-lakukan fitnah untuk menyalakan api fitnah karena mereka rakus akan kekuasaan dan kedudukan. Juga karena ingin memecah belah kaum Muslimin dan kesatuan mereka.

Berkobarlah fitnah besar di tengah kaum muslimin yang dikobarkan oleh ‘Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi asal Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Orang ini berke-liling ke berbagai kota kemudian menetap di Mesir. Ia me-naburkan keraguan di tengah kelompok tentang akidah mereka serta mengecam ‘Utsman   dan para gubernur-nya. Ia gencar mengajak semua orang untuk menurunkan ‘Utsman   dan menggantinya dengan ‘Ali  , sebagai usa-ha menaburkan benih fitnah dan perpecahan.

Maka, mulailah pecah fitnah di Kufah pada tahun 34 H/654 M. Mereka menuntut kepada khalifah untuk meng-ganti gubernur Kufah. Akhirnya ‘Utsman   mengganti-nya untuk memenuhi tuntutan mereka dan sebagai upaya untuk meredam bergolaknya fitnah yang lebih besar.

Setelah itu sejumlah besar orang datang menyerbu Ma-dinah untuk mendebat khalifah. Mereka datang dari Kufah, Bashrah, dan Mesir secara bersamaan. ‘Ali   mencegah mereka dan menerangkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Apalagi, khalifah juga me-lakukan pembelaan terhadap dirinya dengan pembelaan yang sangat masuk akal. Maka pulanglah para pemberontak tersebut dengan tangan hampa dan kekecewaan.

‘Abdullah bin Saba’ paham bahwa peluang yang telah ia bangun bertahun-tahun tampaknya akan lenyap begitu saja. Maka, ia mencari siasat licik dan mengatur strateginya. Ia membuat sebuah surat palsu atas nama Khalifah, ‘Ali   dan juga ‘Aisyah   yang di dalamnya berisi pernyataan bahwa Khalifah akan mengundurkan diri dan ‘Ali akan naik menggantikannya. Disebutkan pula bahwa siapa saja yang tidak setuju, maka orang tersebut akan dibunuh. Sebuah kedustaan yang sangat nyata sekali!

Syahidnya Sang Khalifah

Para pemberontak kembali lagi ke Madinah. Mereka mengepung rumah ‘Utsman bin ‘Affan  . ‘Utsman   se-gera mengirimkan utusan kepada para gubernurnya, me-minta mereka untuk mengirimkan pasukan ke Madinah.
Maka, terjadilah anarkisme di Madinah. ‘Utsman   meminta kepada para sahabat yang bersamanya agar tidak memerangi kaum pemberontak. Beliau secara terus-menerus meminta mereka untuk tidak melakukan hal tersebut. Sebab, beliau menginginkan agar tidak terjadi suatu pertumpah-an darah yang disebabkan oleh dirinya.

BACA JUGA : ‘UTSMAN BIN ‘AFFAN DAN SIFATNYA YANG SANGAT DERMAWAN

Ada kabar bahwa pasukan bantuan akan segera tiba ke Madinah yang membuat pemberontak takut dan khawatir. Mereka kemudian memasuki rumah ‘Utsman   dengan cara melompati pagar rumahnya. Mereka membunuh ‘Utsman   dengan pedang dan merampok harta Baitul Mal. Maka, terjadilah takdir Alloh   yang telah ditetapkan-Nya. Pe-ristiwa ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H/656 M. Dengan demikian, usia kekhalifahan beliau adalah selama 12 tahun.

Perlu dicatat, bahwa pembunuh ‘Utsman   yang se-benarnya adalah sangat sedikit. Di antara yang diketahui adalah al-Ghafiqi yang kemudian melarikan diri. Sedang-kan yang lain tidak diketahui namanya. Oleh karena itu, mereka menisbatkan pembunuhan tersebut kepada para pemberontak sehingga wilayah konfliknya menjadi luas dan memiliki akibat yang sangat berbahaya.

Pada akhirnya, peristiwa tersebut kemudian akan men-jadi bencana bagi Islam dan kaum Muslimin.

Tidak ada komentar

Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.

Salam : Admin K.A.

Diberdayakan oleh Blogger.