TAFSIR MAUDLU’I TENTANG ETIKA BELAJAR MENGAJAR

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia diciptakanAllohSubhanahuwata’alaSubhanahu wa ta’ala secara sempurna di alam ini. Hakikatmanusia yangmenjadikan ia berbeda dengan lainnya adalah, bahwasesungguhnya manusia membutuhkan bimbingan dan pendidikan.Hanya melalui pendidikan manusia sebagai homo educabledapat dididik,dengan pelantara guru. Dan pendidikan sebagai alat yang ampuh untukmengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia. Sehinggaia mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembangkebudayaan.
Untuk membentuk pribadi atau watak terhadap anak ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melalui pendidikanlah pribadi tersebut akan tercipta atau melekat pada jiwa anak, dan dalam pendidikan ini memperkenalkan beberapa metode antara lain metode kebiasaan, keteladanan dan lain-lain. Sifat-sifat dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya dalam proses belajar mengajar.
Hendaklah orang tua atau guru memberikan arahan tentang bagaimana etika dalam belajar mengajar dan menyuruh untuk selalu membiasakan dan melatih anaknya supaya menghormati guru dan memuliakannya seperti sabar dalam mencari dan menerima ilmu. Karena pembiasaan-pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.

B.     Rumusan Masalah
Berangkatdarilatarbelakangmasalah yang telahdisebutkan diatas, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang etika belajar mengajar.

C.    TujuanPembahasan
Adapuntujuan yang ingindicapaidari penulisan makalah ini adalahuntuk mengetahui bagaimanaetika belajar mengajar.



D.    Metodologi Penulisan
Penulisan makalah ini dilakukan dengan menggunakan metode tafsir maudhu’i[1] dengan mencari dan mengumpulkan data-data ilmiah yang relevan dan objektif dengan tema yang dibahas terutama yang terdapat dalam kitab-kitab tafsirpara‘Ulama, kitab-kitab tafsir dan pendidikan (Tarbiyyah) para salaf al-shalih serta kitab-kitab/buku tafsir dan pendidikan (Tarbiyyah) kontemporer saat ini.

  
BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR MAUDLU’I TENTANG ETIKA BELAJAR MENGAJAR
A.    Pengertian Etika Belajar Mengajar
Secara etimologi istilah etika berasal dari kata Latin “Ethicos” yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat.[2] Dalam kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan atau masyarakat.Kata etika pun dapat diartikan dengan adab dalam bahasa Arabyaitu aduba, ya’dabu, adaban, yang mempunyai arti bersopan santun, beradab.[3]
Definisi belajarsecara umum dapat dikatakan sebagai aktivitas pencarian ilmu, atau dengan kata lain merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang dimana aktivitas itu membuatnya memperoleh ilmu. Sedangkan mengajar secara harfiah diartikan kepada memberikan pelajaran. Artinya, mengajar sebagai suatu pekerjaan melibatkan berbagai hal, yaitu guru -sebagai pengajar-, materi pelajaran, dan pelajaran.[4]
Dari uraian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa etika belajar mengajar adalah bagaimana interaksi seorang guru dan peserta didik selama proses belajar mengajar.
B.     Analisis Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Berkaitan dengan Etika Belajar Mengajar
Dalam proses pendidikannya seorang guru dan peserta didik pasti akan berinteraksi dengan seluruh komponen yang mendukung terlaksananya pendidikan tersebut, sehingga perlu baginya untuk memperhatikan Etika dalam belajar mengajar. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjelaskan tentang etika atau adab dalam belajar mengajar yang, agar dapat dilaksanakan baik sebagai penuntut ilmu atau pun sebagai guru.
1.      Ikhlas dalam Belajar dan Mengajar
AllohSubhanahuwata’alaSubhanahhuWaTa’ala berfirman dalam surat azZumar ayat 11:
قُلۡإِنِّيٓأُمِرۡتُأَنۡأَعۡبُدَٱللَّهَمُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ١١
Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah AllohSubhanahuwata’ala dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Agama.Maksudnya Adalah sesungguhnya aku hanyalah diperintahkan untuk memurnikan ibadah kepada AllohSubhanahuwata’ala yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi –Nya.[5]
Ikhlas secara bahasa berbentuk mashdar dan fi’ilnya adalah Akhlasa, itu bentuk mazid. Adapun bentuk mujarradnya adalah khalasa. Dan khalasa maknanya adalah bening (shafa), segala noda hilang darinya. Jika dikatakan Khalasalma’aminal kadar (air bersih dari kotoran) artinya air itu bening. Jika dikatakan dzahabunkhalis (emas murni) artinya emas yang bersih tidak ada noda di dalamnya. Tidak dicampuri oleh partikel lain seperti perunggu dan lain sebagainya.[6] Sedangkan secara terminologi makna ikhlas seperti yang disampaikan oleh almunawi, bahwa ikhlas adalah menyucikan hati dari segala penyakit yang dapat mengeruhkan nurani.[7]
Ikhlas wajib dilakukan setiap pribadi dalam melakukan ketaatan kepada AllohSubhanahuwata’alaTa’ala. Orang yang menuntut ilmu hendaknya memasang niat yang ikhlas, begitu juga dengan belajar dan mengajar, yang merupakan bagian dari peribadatan kepada AllohSubhanahuwata’alaTa’ala.[8]Ikhlas dalam hal ini berarti bahwa mengajarkan mengharap ridhoAllohSubhanahuwata’ala. Atau dengan kata lain, kegiatan belajar mengajar merupakan aktivitas jihad memerangi kebodohan yang diperintahkan Alloh kepada manusia. Serta harus diniatkan pula -dalam proses belajar mengajar- untuk menjaga syari’atAllohSubhanahuwata’ala.[9]Bahkan mengajar itu sendiri merupakan perbuatan AllohSubhanahuwata’ala terhadap makhlunya; Dia mengajar Adam, mengajar para nabi lainnya dan semua manusia seperti yang digambarkan dalam berbagai ayat. Maka dengan demikian, perbuatan mengajar yang dilakukan seorang guru mengandung misi ilahiah.
Untuk itu profesi keguruan tidak hanya sekedar sebagai suatu pekerjaan yang mendatangkan kesejahteraan material terhadapnya, tetapi ia mesti dimaknai sebagai dakwah yukhrijual-nas min al-dzulumatIlaal-nur, yaitu memberikan pencerahan intelektual, aqidah, dan moral kepada peserta didik.[10]
Karena keikhlasan merupakan salah satu syarat diterimanya amalan seorang hamba, jikalau hilang atau tidak adanya keikhlasan maka sudah dapat dipastikan amalan tersebut akan ditolak oleh AllohSubhanahuwata’ala. Poros dari itu semua terletak pada niat, dan niat tempatnya adalah di dada, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi AllohSubhanahuwata’ala.[11]
قُلۡ إِن تُخۡفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمۡأَوۡتُبۡدُوهُيَعۡلَمۡهُٱللَّهُۗ
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya". (Ali Imron 29)
Maka bagi siapa saja yang niatnya murni untuk AllohSubhanahuwata’ala, hendaklah berbahagia dengan pengabulan amalnya dan ganjaran pahala dari Alloh.
Faidah
·         Merupakan kewajiban bagi seorang pengajar dan peserta didik untuk menanamkan hakikat keikhlasan.
·        Seorang pengajar harus menyertakan hakikat tersebut semenjak awal dan terus menerus mengingatkannya.
  
2.      Sabar dalam Belajar Mengajar
Kata as-Shabrudarisegibahasaberartimencegahdanmenahan.[12]Yaitukedudukantinggi yang tidakakandiraihkecualioleh orang yang memilikisemangattinggidanjiwa yang suci.Sifatsabarinibukanlahperkara yang mudahdicapai, melainkanbutuhadaptasidanlatihanpanjangsampaiterbisaterhadaphalitudanakrabdengannya. AllohSubhanahuwata’ala telah menyebutkan kata-kata sabar dalam al-Qur’an sebanyak sembilan puluh tempat, masing-masing ditambah dengan keterangan berbagai kebaikan dan derajat yang tinggi, serta menjadikan sabar sebagai buah dari kebaikan dan derajat yang tinggi tersebut.[13]
Ada sebuah kisah yang menarik dimana di dalamnya banyak manfaat yang bisa kita ambil baik sebagai seorang peserta didik ataupun sebagai seorang guru, yaitu kisah tentang nabi Musa Alaihissalam yang bertemu dengan nabi KhidirAlaihissalam, di mana nabi Musa harus ekstra sabar dalam menimba Ilmu kepada nabi KhidirAlaihissalam dan begitu juga dengan nabi Khidir yang harus ekstra sabar mengajari ilmu yang telah dianugerahkan oleh AllohSubhanahuwata’ala kepada muridnya ini. AllohSubhanahuwata’ala berfirman dalam surat Al Kahfi ayat 60-70:
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰلِفَتَىٰهُلَآأَبۡرَحُحَتَّىٰٓأَبۡلُغَمَجۡمَعَٱلۡبَحۡرَيۡنِأَوۡأَمۡضِيَحُقُبٗا ٦٠فَلَمَّا بَلَغَا مَجۡمَعَبَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَٱتَّخَذَسَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِسَرَبٗا ٦فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَالَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَانَصَبٗا ٦٢قَالَأَرَءَيۡتَإِذۡأَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَوَمَآأَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُأَنۡأَذۡكُرَهُۥۚوَٱتَّخَذَسَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِعَجَبٗا ٦٣قَالَذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚفَٱرۡتَدَّاعَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا ٦٤فَوَجَدَاعَبۡدٗامِّنۡعِبَادِنَآءَاتَيۡنَٰهُرَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا ٦٥قَالَلَهُۥمُوسَىٰهَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَرُشۡدٗا ٦٦قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ٦٧وَكَيۡفَتَصۡبِرُعَلَىٰ مَا لَمۡتُحِطۡبِهِۦخُبۡرٗا ٦٨قَالَسَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَٱللَّهُصَابِرٗاوَلَآأَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا ٦٩قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡ‍َٔلۡنِي عَن شَيۡءٍحَتَّىٰٓأُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُذِكۡرٗا ٧٠

Artinya: (60)“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya,"Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". (61) Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (62) Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". (63) Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali". (64) Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (65) lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (66) Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (67) Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. (68) dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (69) Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". (70) Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang kisah Musa, bahwa RosulullohShollallohu ‘alaihiwasallamShollAllohSubhanahuwata’alau ‘AlaihiWaSallam bersabda: “Musa berkhutbahdihadapan bani Israil. Dia ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling pandai’ Musa menjawab, ‘Aku’. ‘maka, AllohSubhanahuwata’ala mencelanya karena dia belum lagi diberikan pengetahuan yang banyak. Lalu, AllohSubhanahuwata’ala memberitahukan kepadanya, ‘Aku punya seorang hamba yang tinggal di dua lautan. Dia lebih pandai dari pada kamu. ‘Musa berakata, ya AllohSubhanahuwata’ala bagaimana aku menemuinya?’ AllohSubhanahuwata’ala menjawab, ‘bawalah ikan dan simpanlah di keranjang. Diana saja ikan itu hilang di situlah hamba-Ku berada.’ Kemudian, Musa mengambil ikan dan menyimpannya di keranjang. Musa pergi di temani muridnya  Yusya bin Nun ‘Alaihissalam. Setelah keduanya sampai di batu besar, keduanya telentang di atas batu itu dan tertidur. Ikan yang ada dalam keranjang bergerak-gerak lalu keluar dan jatuh ke laut. Ikan itu berjalan di atas laut seperti fatamorgana. AllohSubhanahuwata’ala membekukan air yang dilalui ikan sehingga air itu seperti titian.”
Tatkala keduanya bangun muridnya lupa memberi tahukan ihwal ikan itu. Lalu, keduanya pergi menghabiskan sisa siang dan sepanjang malam. Pada pagi hari, Musa berkata kepada muridnya, “bawalah kemari makanan kita’ sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan ini.” Musa tidak merasa letih sebelum melintasi tempat seperti ditunjukkan AllohSubhanahuwata’ala kepadanya. Muridnya berkata kepada Musa, tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa ikan itu dan tidaklah membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh.”
Ubay berkata, “ikan berjalan di atas air seperti fatamorgana sedang Musa dan muridnya keheranan. Musa berkata, ‘itulah yang kita cari. Lalu, keduanya kembali menelusuri jejak mereka semula.’
Ubay berkata, “keduanya kembali menelusuri jejak itu hingga pada batu besar. Ternyata di sana ada seorang laki-laki yang berpakaian lengkap. Musa memberi salam kepadanya.Khidir berkata, ‘sesungguhnya aku berada di negrimu dengan damai.’ Musa berkata, aku Musa. ‘Khidir berkata, Musa bani Israil ?’ Musa membenarkannya. Musa berkata, aku datang menemuimu agar engkau mengajariku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu.’ Dia menjawab, sesungguhnya, kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, hai Musa. Sesungguhnya, aku memiliki sebagian pengetahuan AllohSubhanahuwata’ala yang diajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui, dan engkaupun memiliki sebagian pengetahuan AllohSubhanahuwata’ala yang diajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Musa berkata, “InsyaAllohSubhanahuwata’ala, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” Khidir berkata “jika jika kamu mengikuti aku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Kemudian, keduanya berjalan di pantai. Tiba-tiba, melintaslah sebuah perahu. Mereka meminta kepada awak perahu agar ikut membawanya. Awak perahu mengenali Khidir. Mereka pun naik tanpa membayar sewa. Setelah keduanya naik perahu, tiba-tiba Khidir mencopoti papan perahu satu demi satu dengan kapak. Musa berkata kepada Khidir, “mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran lalu kamu merusak perahunya. Mengapa kamu melubanginya sehingga menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.” Khidir berkata “Bukakah aku telah berkata, sesungguhnya, kamu tidak akan bersabar bersama denganku.” Musa berkata, “janganlah kamu menghukum aku karena kealpaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”
Ubay berkata, “kemudian datanglah burung pipit dan hinggap di pinggir perahu. Burungitu menukik ke laut satu atau dua kali. Khidir berkata kepada Musa, pengetahuan AllohSubhanahuwata’ala yang diajarkan kepadaku dan kepadamu hanyalah seperti air yang terbawa oleh paruh burung itu yang menukik ke laut ini.”
Musa dan Khidir turun dari perahu. Ketika keduanya berjalan di pantai, Khidir melihat seorang anak telah bermain dengan anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu lalu memelintirkannya hingga tewas. Musa berkata kepadanya, “mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain? Sesungguhnya, kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” Khidir berkata, bukankah sudah aku katak kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?”
Ubay berkata “tindakan Khidir ini lebih dahsyat dari pada yang pertama. Musa berkata, jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya, kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka, keduanya berjalan hingga tatkala sampai kepada penduduk suatu negeri (Menurut Ibnu Juraij negeri ini adalah Elia, ada yang menyebutkan pula Li’ama alias Bakhla’), mereka minta dijamu oleh penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu menolak untuk menjamu mereka. Kemudian, keduanya kedapatan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Lalu Khidir berisyarat dengan tangannya maka Khidir menegakkan dinding rumah itu. Musa berkata penduduk yang kita jumpai tidak mau memberi kita makan dan menolak untuk menjamu kita. Jikalau kau mau, niscaya kamu dapat mengambil upah untuk itu, Khidir berkata ‘inilah perpisahan antara aku dan kamu, aku akan memberi tahukan tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. RosulullohShollallohu ‘alaihiwasallam bersabda “ kita sangat mengharapkan Musa dapat bersabar sehingga AllohSubhanahuwata’ala menceritakan pengalaman keduanya kepada kita”... [14]
Adapun dalam hadis RosulullohShollallohu ‘alaihiwasallam disebutkan tentang sabar sebagai berikut:“Amat mengagumkan keadaan orang mukmin itu. Sungguh semua keadaannya itu merupakan kebaikan baginya, dan kebaikan yang sedemikian itu tidak dimiliki selain orang mu’min. Apabila ia mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur sehingga hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa oleh kesukaran, maka ia pun bersabar, dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini terkandung dua faidah besar, yaitu:
·         Kehidupan seorang Muslim, baik senang ataupun sulit semuanya mengandung pahala disisiAllohSubhanahuwata’alata’ala.
·         Seorang mu’min yang sempurna imannya akan bersyukur kepada AllohSubhanahuwata’ala ketika mendapatkan kesenangan, dan bersabar kepada-Nya ketika mendapatkan kesulitan atau musibah, sehingga ia memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Adapun orang yang kurang imannya, ia merasa gelisah dan marah ketika menghadapi musibah. Maka, dia tidak hanya menanggung musibah tersebut, tetapi juga akan mendapatkan dosa lantaran kemarahannya itu. Orang seperti ini tidak pernah tahu berapa banyak kenikmatan yang ia peroleh, sehingga ia tidak pernah mensyukurinya. Maka, kenikmatan itu pun berubah menjadi bencana.[15]
Al-Hasan berkata “kesabaran itu salah satu dari berbagai harta simpanan yang baik. AllohSubhanahuwata’alatidak memberikannya kecuali pada seorang Hamba yang mulia disisi-Nya. Sedangkan imam Ibnu Qoyyim berkata, siapa yang AllohSubhanahuwata’ala ciptakan untuk masuk ke surga, maka hadiah yang datang kepadanyaberupa hal-hal yang dibenci (dilarang) tatkala didunia. Siapa yang AllohSubhanahuwata’ala ciptakan untuk masuk ke neraka, maka hadiah yang diberikan kepadanya berupa hal-hal yang sesuai dengan syahwat (ketika di dunia). Beliau juga berkata, siapa yang merasakan manisnya nikmat kesehatan maka segala kesulitan yang mesti dihadapi dengan penuh kesabaran sangat mudah baginya.[16]
Betapa bayak ayat-ayat alQur’an danhadits yang berbicara tentang sabar dan urgensitasnya, maka sabar pun harus diterapkan dalam proses belajar mengajar, baik oleh guru maupun muridnya sebagaimana diceritakan dalam alQur’an tentang Musa dan Khidir.
3.     Bertanya Kepada Orang yang Lebih Mengetahui
وَمَآأَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗانُّوحِيٓإِلَيۡهِمۡۖفَسۡ‍َٔلُوٓاْأَهۡلَٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui”. (Surat an- Nahl: 43)
Dalam tafsir Al Muyassar dijelaskan, “kami tidak mengutus pada umat-umat sebelummu wahai Rosul, kecuali rosul dari kalangan laki-laki bukan dari kalangan malaikat, yang Kami berikan wahyu kepada mereka. Jika kalian wahai orang-orang musyrik Quraisy, tidak percaya akan hal itu, maka bertanyalah kepada Ahlul kitab sebelumnya supaya mereka menyampaikan kepada kalian bahwa para Nabi itu semuanya manusia, jika kalian tidak mengetahui bahwa mereka itu manusia. Ayat ini berlaku umum dalam semua persoalan agama. Jika seseorang tidak memiliki pengetahuan tentangnya, maka hendaklah ia bertanya kepada orang yang mengetahuinya, yaitu ulama yang mendalam ilmunya.[17]
Sedangkan dalam kitab Ringkasan Tafsir Ibnu katsir dijelaskan, bahwasanya Adh-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas : ketika AllohSubhanahuwata’ala mengutus Muhammad, maka sebagian bangsa Arab mengingkarinya. Mereka berkata “Bagaimana mungkin AllohSubhanahuwata’ala yang demikian agung mengutus seorang manusia sebagai Rosul-Nya.” Maka di turunkanlah ayat, “patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa kami mewahyukan kepada seorang laki-laki diantara mereka, Berilah peringatan kepada manusia…”(Yunus : 2). Sedangkan di dalam ayat ini AllohSubhanahuwata’ala berfirman “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.
Maksudnyatanyakanlah kepada Ahli kitab, apakah dahulu rosul mereka itu manusia ataukah malaikat ? jika mereka malaikat wajarlah jika kamu ingkar. Namun jika mereka itu manusia maka jangan heran terhadap keberadaan Muhammad sebagai Rosul.
Mujahid juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan “orang yang mempunyai pengetahuan” ialah ahli kitab. Ayat ini bertujuan untuk menerangkan bahwa para Rosul terdahulu yang diutus sebelum Muhammad pun adalah manusia seperti halnya Muhammad, sebagaimana firman AllohSubhanahuwata’ala, “ Katakanlah, Bahwasanya aku hanyalah manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku….”(Fushshilat :6)
Kemudian AllohSubhanahuwata’ala mengarahkan orang-orang yang meragukan keberadaan Rosul berupa manusia agar mereka bertanya kepada pemegang kitab-kitab terdahulu ihwal para Nabinya, Apakah mereka manusia ataukah Malaikat ?[18]
Meskipun ayat tersebut menunjukkan tentang orang yang lebih tahu dalam perkara agama (ilmu-ilmu agama), namun ini pun bukan berarti meniadakan untuk diterapkan sebagai konsep/adab dalam belajar mengajar.
  


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Etika/adab harus dimiliki oleh setiap individu supaya jalinan hubungansosialnya berjalan dengan baik dan bermakna. Begitu juga dalam proses pendidikan.Seorang guru atau murid hendaklah memiliki etika dalam proses belajar mengajar. Karena eksistensi etika pada proses pendidikan akan mempengaruhi kualitas aspek aksiologi dari ilmu yang diperoleh. Pertama,Mulai dari menyucikan jiwanya dengan meluruskan niat.kedua, bersabar dalam proses belajar mengajar.Ketiga, serta bertanya kepada yang lebih ahli (mempunyai ilmu) dan adab-adab yang lainnya.

















DAFTAR PUSTAKA
Abu Faris, Muhammad Abdul Qodir.2005. Menyucikan Jiwa. Jakarta: Gema Insani Press.
Al Bugha,MusthafaDib. 2012. SyarahRiyadhusShalihin. Jakarta: Gema Insani Press.
Al Jauziyah, Ibnu Qoyyim. Uddahash-Shabirin. t.t.
Al-Maqdisy,Ibnu Qudamah. 2008. MinhajulQashidin. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.
Al Mishri, Mahmud. 2009. Ensiklopedi Akhlak Muhammad. Jakarta: Pena.
Al Mubarakfuri,Safiyurrahman. 2006. Shohih Tafsir Ibnu katsir. Bogor: Pustaka Ibnu kasir.
AlUtsaimin, Muhammad bin Shalih. 2005.SyarahAdabdanManfaatMenuntutIlmu, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I.
Ar Rifa’i, Muhammad Nasib.2012. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press.
AsySyalhub,  Fu’ad bin Abdul Aziz.2013. Begini seharusnya menjadi guru (terjemah al-Mu’allimal-Awwal -QudwahLikulliMu’allimwaMu’allimah-, Daral-Qasim). Jakarta: DarulHaq.
Basyir, Hikmat. 2012.Tafsir Al-Muyassar. Solo: AnNaba.
Farid, Ahmad. 2011. Pendidikan berbasis metode Ahlussunnahwaljama’ah. Surabaya: Pustaka eLBA.
Munawwir, A.W. 1997. Kamus Al-MunawwirArab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif.
M Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir tarbawi pesan pesan Al Quran tentang pendidikan. Jakarta: Amzah.
Nata, Abuddin. 2010. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayatal-Tarbawiy). Jakarta: PT Raja Grafindo.

Sumber dari internet



[1] Metode tafsir yang cara bekerjanya dimulai dengan menetapkan tema yang akan dibahas, menghimpun ayat-ayat yang ada hubungannya dengan tema, menghubungkan antara ayat-ayat, mempelajari latar belakang turunnya ayat-ayat, menjelaskan makna kosa kata yang terdapat pada ayat-ayat, melakukan pembahasan ayat dengan menggunakan hadits, kaidah kebahasaan, dan menganalisanya dengan menggunakan ilmu bantu yang relevan, dan kemudian menyimpulkannya. Lihat Prof. Dr. H. AbuddinNata, M.A., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayatal-Tarbawiy). Jakarta: PT Raja Grafindo, 2010, Hal 4.
[2]http://af008.wordpress.com/etika-etiket-dan-moral/. Diunduh pada hari Jum’at04-04-14 pukul 22:10
[3]A.W. Munawwir, Kamus Al-MunawwirArab-Indonesia Terlengkap, Surabaya : Pustaka Progressif. 1997. Hal 462.
[4] Dr. Kadar M Yusuf, M.Ag. Tafsir tarbawi pesan pesan Al Quran tentang pendidikan. Jakarta: Amzah. 2013. Hal 58.
[5]SafiyurrahmanalMubarakfuri.Shohih Tafsir Ibnu katsir.Bogor: Pustaka Ibnu kasir jilid 7.2006. Hal 721., Muhammad Nasib ArRifa’i. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4. Jakarta : Gema Insani Press. 2012. Hal 75.
[6] Muhammad Abdul Qodir Abu Faris. Menyucikan Jiwa.Jakarta:Gema Insani Press.2005. Hal15.
[7] Mahmud alMishri.Ensiklopedi Akhlak Muhammad.Jakarta: Pena.2009. Hal 36.
[8]Syaikh Ahmad Farid. Pendidikan berbasis metode Ahlussunnah bal jama’ah. Surabaya: Pustaka eLBA. 2011. Hal 276.
[9]Muhammad bin Shalihal-‘Utsaimin. SyarahAdabdanManfaatMenuntutIlmu, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I. 2005. Hal 11.

[10] Dr Kadar M Yusuf, M.Ag. Tafsir tarbawi pesan pesan Al Quran tentang pendidikan. Jakarta: Amzah. 2013. Hal 61.
[11] Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub,  Begini seharusnya menjadi guru (terjemah al-Mu’allimal-Awwal -QudwahLikulliMu’allimwaMu’allimah-, Daral-Qasim). Jakarta: DarulHaq. 2013. cet ke VI. Hal 7.
[12]LihatUddahash-Shabirin, karya Ibnu Qoyyimal-Jauziyah, Hal21.
[13]  Ibnu QudamahAl-Maqdisy. MinhajulQashidin. Jakarta: Pustaka As-Sunnah. 2008. Hal 479.
[14] Muhammad Nasib ArRifa’i. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3. Jakarta: Gema Insani Press. 2012. Hal, 110-114.
[15]MusthafaDibal-Bugha. SyarahRiyadhusShalihinJilid 1 Jakarta: Gema Insani Press. 2012. Hal 50-51.
[16]Ibnu QudamahAl-Maqdisy. MinhajulQashidin. Jakarta: Pustaka As-Sunnah. 2008. Hal 480.
[17]  Hikmat Basyir. Tafsir Al-Muyassar jilid 2. Solo:AnNaba. 2012. Hal 283.
[18] Muhammad Nasib ArRifa’i. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2. Jakarta:Gema Insani Press. 2012. Hal 733.

Tidak ada komentar

Silahkan mengcopy-paste, menyebarkan, dan membagi isi blog selama masih menjaga amanah ilmiah dengan menyertakan sumbernya.

Salam : Admin K.A.

Diberdayakan oleh Blogger.